[Fiksi Uniek] Duri Dalam Hati




"Kuantar ya?"

"Enggak."

"Kenapa?"

"Ga kenapa-kenapa."


Jika percakapan ini dilanjutkan, Du yakin ruwetnya benang yang ada di hadapan Mona bukanlah tandingan dari perbincangan tiada ujung yang telah berulang kali terjadi.

Du tampak sendu menatap Mona yang terlihat masih asyik berkutat dengan buku sketch dan metlin di tangannya. Merasa tak dianggap, akhirnya Du menyingkir perlahan-lahan. Seperti biasanya.

Tak pernah habis pikir, kenapa Mona selalu tenggelam dalam dunianya. Di antara tumpukan kain, benang, gunting, dengung mesin jahit, juga para pekerja jahitnya yang berjumlah sekitar sepuluh orang itu. Tak ada waktu lagi untuknya. Ini yang selalu membebani pikiran Du. 

Di antara sekian perempuan yang muncul dalam kehidupannya, hanya Mona yang membuat Du tak berdaya. Padahal kalau dipikir-pikir, Mona tidaklah istimewa sangat. 

Perawakannya yang langsing, ya sama saja dengan para perempuan cantik yang ngebet pengin dijadikan kekasih oleh Du. 

Wajah cantik? Du sudah kenyang melihat beraneka model gadis cantik yang ada di sekelilingnya. 

Budi pekerti luhur? Ahelaahh.. memangnya dia pengin macarin Raden Ajeng Kartini apa?


"Aku pulang dulu ya kalau gitu. Yakin tidak mau kuantar?"

Menggeleng. Kali ini sambil menoleh dengan melemparkan tatapan penuh terima kasih.

Du tak jadi marah melihat sorot mata bening itu. Meskipun dirinya teramat kecewa tak bisa menghabiskan malam Minggu ini dengan Mona, Du masih punya harga diri untuk tidak mengemis waktu pada gadis berkaca mata yang ada di hadapannya ini. 

Mona menghampirinya. Menepuk bahunya dan mendaratkan ciuman cepat ke pipinya. 

"Hati-hati yaaa..."

Sudah? Hanya itu? Mona kok tak tahu ya kalau Du sedang kangen padanya setelah dua minggu tak berjumpa. 

Du tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi Mona. Pengin kesal, tapi kesal karena apa? 

Putus asa. Du berjalan gontai keluar dari studio jahit milik Mona. Dilaluinya ruangan berikut yang berisi deretan orang sedang sibuk melakukan berbagai pekerjaan. Ada yang bercakap-cakap, ada yang sibuk memasang renda, suara gunting beradu dengan kain, berbagai keriuhan yang makin membuyarkan angannya untuk bisa berkencan dengan Mona malam ini. 


----


Sudah dua kali Mona melihat Du bercakap-cakap dengan gadis cantik itu. Gadis tinggi semampai bak model, dengan rambut curly berwarna agak pirang. Tawa yang keluar dari mulut gadis itu terlihat memesona. 

Mona paham sekali dengan gesture tubuh gadis itu. Dia pasti seseorang yang dekat sekali dengan Du. Kalau tidak, masak mereka bercakap-cakap sambil pegangan tangan. Bahkan sesekali gadis itu menjentikkan jarinya di hidung Du, mengusap pipi Du, juga menyuapkan sepotong kue ke mulutnya.

Bukannya tanpa resiko Mona menerima cinta seorang Duri Adriansyah, seorang fotografer andal yang hasil jepretannya sudah menghiasi berbagai cover majalah. Du yang tak begitu tampan namun punya sorot mata tajam, rambut lurus gondrong yang tertata rapi, gaya bicaranya yang acuh acuh butuh, suaranya yang dalam dan ngebass, semua kriteria cowok idaman ada padanya. Dalam sekali pandang sudah ketahuan laki-laki itu pasti sudah menaklukkan hati banyak perempuan.

Sedangkan dirinya?

Dia hanya seorang mantan foto model yang sudah tak lagi bersinar. MANTAN.

Iya. Kecelakaan mobil parah yang dialami Mona dua belas tahun yang lalu telah merenggut impiannya untuk menjadi model ternama. Saat itu karirnya sebagai model sedang pada puncaknya. Namun tragedi di jalanan yang membuat kakinya tak sempurna lagi, tentu saja memupus semua impiannya.

Mona tak lagi bisa menggunakan high heels. Tak mungkin juga memeragakan gaun dengan belahan tinggi yang akan memperlihatkan kakinya yang tak sempurna lagi. Belum lagi cara berjalannya yang sudah tak bisa seanggun mereka yang terlihat cantik menawan di catwalk.

Passion di bidang mode lah yang membuat Mona tetap berada di industri yang satu ini. Tak mau berpisah dengan dunia yang digandrunginya, membuat Mona membulatkan tekad untuk mempelajari hal yang tak jauh-jauh amat dari mode.

Dan begitulah, tekad yang kuat dan membara dari seorang Mona Karina membawanya kembali ke catwalk. Kali ini sebagai perancang busana yang sesekali bisa naik ke panggung untuk mendampingi para model yang sedang memeragakan karya rancangannya itu.

Perjumpaan Mona dengan Du sangat biasa. Pada salah satu event peragaan busana, Du mengajaknya berkenalan ketika bertatap muka di backstage. Du sedang memotret behind the scene dari event tersebut.

Ya, semua begitu saja menurut Mona. Mona tak tahu apa yang istimewa dari dirinya sehingga seorang lelaki keren seperti Du mau berkenalan dengannya, tampak antusias untuk berjumpa kembali dengannya di lain waktu. Hari-hari berikutnya terus saja lelaki itu tak patah semangat mendekatinya hingga akhirnya Mona mau menerima cintanya.

Kini, melihat Du duduk berdua dengan gadis cantik itu, ada yang lain di hati Mona. Meskipun selama ini dia tak terlalu menganggap serius hubungannya dengan Du, ternyata ada serpihan hatinya yang terasa koyak melihat kemesraan mereka berdua.


-----


Laptop di mejanya sudah berjam-jam nganggur. Semula Du berencana mengedit beberapa foto yang akan segera dikirimnya ke Marsha. Dia sudah berjanji pada Marsha untuk segera menyelesaikan foto-foto untuk project White Scarf yang diinisiasi Marsha untuk menggalang dana bagi para penyintas kanker getah bening.

Marsha sendiri saat ini sedang berada dalam kondisi kesehatan yang makin menurun. Keaktifannya dalam berbagai kegiatan sosial merupakan hal baik yang ingin dilakukannya dalam sisa hidupnya. Itu kata Marsha pada Du saat mereka bertemu di Huis Cafe kapan hari.

Du senang sekali bisa membantu Marsha dalam project kemanusiaan ini. Mereka memang pernah dekat bertahun-tahun yang lalu. Itu sebelum Marsha menemukan lelaki yang saat ini menjadi suaminya.

Laptop itu seakan menarik Du kembali ke saat ini. Bayangan Marsha berganti dengan Mona. Dua perempuan yang sangat berbeda. Meski sama-sama cantik, Mona tampak misterius. Berbeda dengan Marsha yang sangat talkative, hangat dan ekspresif. Mona bagaikan dinding batu yang dingin. Jika suatu saat dia tertangkap basah oleh mata Du sedang melakukan sesuatu yang menghangatkan hati, Mona akan cepat-cepat kembali memasang ekspresi dingin.

Mona seperti berusaha menyembunyikan sesuatu. Tapi Du tak pernah tahu apa itu.

Du terpesona pada Mona pada pandangan pertama. Hal ini tak pernah dirasakan oleh Du sebelumnya.

Pada suatu peragaan busana, Du melihat Mona sedang memberikan arahan ke beberapa model yang sedang difoto. Mona sibuk merapikan tali baju si model, menunjukkan bagaimana cara yang tepat agar lekukan badan si model pas dengan motif gaun yang menjadi bagian yang paling ditonjolkan. Terkadang Mona hanya berdiri, mengatupkan tangan di dadanya sembari memandang tampilan busana yang sedang akan difoto itu. Begitu detail. Begitu penuh cinta dan dedikasi pada pekerjaannya.

Begitulah Du menemukan Mona. Du dengan mata dan instingnya yang tajam seakan menemukan berlian yang sudah lama terpendam. Mona seperti sengaja mengubur segala aura kecantikan dalam model baju yang kelihatan elegan tapi tidak menarik. Du tahu, Mona bersembunyi dalam balutan penampilan yang sangat tidak matched dengan dirinya. Mona tak bisa membohongi Du.

Meski lensa kamera Du mengarah pada para model, matanya tak mau lepas dari sosok perempuan berkaca mata, yang senyumnya seperti menyembunyikan sesuatu. Ada luka yang dalam di situ.

Sembari menghembuskan napas panjang, dengan malas Du meraih laptopnya. Dia harus bekerja agar tak melulu memikirkan Mona.


----


"Situasi saat ini sedang sulit sekali, Mba. Kita sudah hampir kehabisan modal untuk menutup ongkos operasional butik."

Kata-kata Dian masih terngiang dalam benak Mona. Kepalanya terasa berdenyut-denyut memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk tetap memberikan nafkah kepada para penjahitnya.

Sebagian besar penjahitnya adalah orang-orang berkebutuhan khusus yang selama ini amat menggantungkan pendapatan dari orderan jahit yang diterima oleh Mona. Mona bisa merasakan keputusasaan mereka ketika pertama kali merekrut dan melatih mereka untuk menjadi penjahitnya. Rasa putus asa yang sama, yang pernah dialaminya ketika menyadari kakinya tak bisa selurus dulu lagi.

Kedekatan batin Mona dan para penjahitnya memang karena kesamaan nasib. Ketidaksempurnaan fisik menjadi salah satu hal yang menyedihkan. Namun hal itu tak bisa berlama-lama diratapi. Hidup harus terus bergerak ke depan.

Itulah kenapa Mona tak pernah membiarkan dirinya bersenang-senang. Tak ada lagi yang sama sejak kecelakaan itu merenggut kesempurnaan tubuhnya. Kini dia hanya tahu bagaimana membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingnya saja.

Kini semua menjadi sangat sulit ketika pandemi Corona membuat rancangan bajunya menjadi bukan hal yang mendesak lagi untuk dipesan. Semua orang berusaha menurunkan cost, memangkas pengeluaran tak penting. Para pelanggan tetapnya pun dengan berat hati menunda pesanan yang sudah terlanjur masuk.

Lalu aku harus bagaimana?

Mona merasakan batinnya menjerit dalam ketidakmampuan. Apa yang harus dikerjakan oleh para penjahitnya kalau orderan sepi seperti ini. Untuk menghidupi mereka semua, Mona tak tahu lagi seberapa besar kekuatan dana pribadi yang masih dimilikinya


----


Du terpekur tak percaya. Sudah beberapa saat dia berdiri di depan butik Mona Karina. Baliho besar yang terpasang di bagian depan sudah tak ada. Pun tanda-tanda kehidupan tak ada di situ.

Beberapa kali Du mengetuk pintu namun tak ada yang membukakan. Begitu pula ketika dicobanya untuk menghubungi Mona, telponnya tak diangkat, pesan whatsapp pun hanya centang satu.

Saat Du mencoba untuk datang ke apartemen Mona, rupanya kini telah berganti kepemilikan. Du merasakan frustasi yang tiada terperi. Apa-apaan ini Mona, pergi begitu saja tanpa ada pesan.

Padahal hari ini Du ingin sekali bercerita pada Mona betapa sedihnya kehilangan seorang teman baik seperti Marsha. Kanker getah bening telah mengalahkan perjuangan hidup Marsha. Setelah melepas kepergian Marsha menuju tempat peristirahatan terakhirnya, Du ingin sekali bertemu Mona, perempuan yang paling dicintainya saat ini.

Du tak siap menghadapi kejutan ini. Sama tak siapnya dengan tong sampah yang tadinya berdiri tegak di samping pintu, yang kini tergeletak tak berdaya setelah menerima tendangan tak terduga dari Du yang tampak putus asa.


----


Semoga kepergianku membawa kebahagiaan untuk kalian berdua.

Mona hanya bisa merintih sendu di dalam rumah kontrakan barunya ini. Bersama dengan semua karyawannya, dia pindah ke rumah yang lebih sederhana. Saat ini Mona hanya bisa mendapatkan pesanan jahitan masker dari beberapa kenalan baiknya. Tak terlalu banyak untuk menutup kebutuhan hidup para pekerjanya. Tapi mau gimana lagi.

Para penjahit yang telah membersamainya bertahun-tahun ini tak mau berpisah dengannya. Setelah secara perlahan-lahan Mona menyampaikan keikhlasannya apabila mereka semua mau pindah kerja, atau membuka usaha sendiri, para penjahitnya malah sepakat untuk tetap bersama dengannya apapun yang terjadi.

Mona tak tahu harus merasakan apa. Sedih atau bahagia. Belum pernah dia begitu dicintai dan begitu dibutuhkan oleh orang lain.

Bahkan oleh Du sekalipun. Duri Adriansyah yang selalu ada dalam hatinya itu, ternyata tak sesetia seperti yang dibayangkannya. Mona sudah hendak mulai membuka kebekuan hatinya ketika mendapati Du duduk dengan penuh kemesraan bersama perempuan lain.

Semoga kepergianku menjadi jalan terbaik agar kau tak mendua hati lagi, Du. Aku akan selalu mencintaimu walaupun engkau tak lagi seserius dulu dalam mencintaiku.

Yakinlah, ketika suatu saat kita bertemu lagi, kau akan berterima kasih padaku karena aku memilih pergi dari hidupmu.



-----


Fiksi ini diikutsertakan pada Parade Karya Cerpen 'Perempuan' di Komunitas Blogger Gandjel Rel Semarang

Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Bobby Caldwell, Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

70 comments:

  1. Aduduuu...gemeeees.. Kenapa sih ga ada yg mau ngomong duluaan?? Haha.. Nice story, Dik.. Hingga aku gemas sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. BTW..semoga ada kisah lanjutan yg happy end utk mereka.
      ...bila duriii berkembang dalam hatiiii....
      *ups..umpetin KTP 🤣

      Delete
    2. Aku penggemar dark story mba. Sukaknya ya yang gini. :))

      Delete
  2. Duri emang nylekit seperti namanya ih gemes

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lhooo Duri baik mbaa.. ganteng loh. Halaahh :))

      Delete
  3. Iiih...kok gitu siiih

    Mbok yao jangan saling membaca perasaan.

    Kalo kt suamiku, "Aku bukan ahli kebatinan yg bisa tahu keinginanmu tanpa kamu bicara."

    ReplyDelete
  4. Huhuhu jadi mellow, memang ada orang yang entah kenapa nggak mau ngomong duluan ya

    ReplyDelete
  5. Welah mbak. Hambok ketemu walo bentar. Biar yang baca nggak nyesek...nggantung gini geregetan banget kan sama duuuu...

    ReplyDelete
  6. Aduh Du tega banget ya, kadang lelaki memang melihat apa yang terlihat dari packaging. Sedangkan bagaimana mungkin Mona si Mantan Model itu dilirik lagi. Semoga Mona menemukan seorang yang bisa menggangtikan Du dalam hatinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Du padahal cinta mati sama Mona lho mbaaa... *Tim Du

      Delete
  7. Hyaaa... kesel bacanya. Susah amat ya tinggal ngomong aja juga loh. Harusnya Du ceritalah daripada salah paham. Mona juga harusnya dengerin juga alasan Du. Kadangkan apa yang terlihat tidak selalu sesuai dengan apa yang kita pikirkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mba. Aku juga kesel nih sama mereka berdua.

      Delete
    2. Aku mulai paham kenapa mereka gak saling ngomong.
      Mungkin hubungan mereka belum "sedalam" itu, hingga hanya bisa saling berprasangka.

      Kalau dari drama Korea yang aku tonton, orang dengan luka masa lalu dan kekurang sempurnaan seperti Mona, pasti butuh waktu untuk bisa menerima bahwa "Aku pantas untuk dicintai."


      Kak Unieeekk....
      Laaf your story....

      Delete
  8. Mereka setipe ya Mbak. Sama2 gengsian untuk menunjukkan rasa, hehe. Ceritanya bagus, endingnya gantung, saya suka cerpen yang begini.

    ReplyDelete
  9. Mereka setipe ya Mbak. Sama2 gengsian untuk menunjukkan rasa, hehe. Ceritanya bagus, endingnya gantung, saya suka cerpen yang begini.

    ReplyDelete
  10. itulah mengapa cinta itu harus dikatakan dan diperjuangkan, tidak hanya ditransfer lewat perasaan, eeaa

    ReplyDelete
  11. Duuuh makanya si ngobrol gitu, biar nggak salah paham. Gemes sendiri hahaaa. Tapi anak muda memang gitu, ribet. AKu dulu juga gitu. Laaaaaah! Kenapa perlu 20th supaya jiwa mamak2 keluar ya? Kalau mamak2 mah apa2 yg terlintas langsung diteriakin jadi sedunia tahu.

    ReplyDelete
  12. Suka gemes deh kalau ada tokoh atau orang yang cuma bicara dalam hati, ga langsung bicara atau komunikasi. Jadinya kan malah salah paham dan fatal gitu...

    ReplyDelete
  13. Lalu aku jadi berkaca ke diri sendiri 🙈 Terima kasih ceritanya, Mba. Meski bikin baper pagi-pagi gini, aku merasa terhibur hehe. Jadi rindu baca buku

    ReplyDelete
  14. Gini nih klo semua cuma berprasangka aja, ga ada inisiatif untuk ngobrol. Kn rugi semua, ihh emang gampang ninggalin orang yang dicintai. Ntar nyesel deh klo tahu faktanya, heeem...
    Wkwkwk... kok baper akunya 😂

    ReplyDelete
  15. suka gemes banget kalo pas nonton / baca , ada tokoh yang cuma ngomong dihati aja tanpa disampaikan langsung ya hihihi

    ReplyDelete
  16. Nggak mau ngomong duluan itu bikin rugi diri sendiri sebenarnya, tapi akutu termasuk tipe ini..hahaha..

    ReplyDelete
  17. duh nama sama kelakuannya ga beda jauh :( duri, bener ya kata orang jaman dulu, harus ngaish nama yg baik2 hahahaa

    ReplyDelete
  18. Aah... kenapa jadi gitu? Mona salah paham. Perempuan seprti Mona pasti sedih liat Du dengan wanita lain. Jadi wajar aja dia memutuskan untuk pergi. Tapi setidaknya dengerin Du dulu, dong, Monaaa!
    Kalian berhak bahagiaa...hiks, hiks

    ReplyDelete
  19. Ya ampuun apik banget cerpennya Mbak. Jadi ingat dulu saya nggak pernah suskses bikin cerpen. Makanya memutuskan menulis tentang cerita nyata saja. Saya selalu mandeg di tengah-tengah cerita. Kurang bisa mengolah kata dan berimajinasi. Namun jujur saya pecinta cerpen dan novel-novel fiksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mb Lina. Kebetulan saya memang penggemar fiksi, jadi sekalian pengin latihan gitu gimana rasanya bisa nulis fiksi dan menciptakan karakter masing-masing tokohnya.

      Delete
  20. Ini kalau dijadikan drama Korea pasti aku mewek2 hehe, inilah yg sering terjadi di drama 2 krn sama2 memendam perasaan dan tak mampu mengungkapkan, jdnya sok2an jd "pahlawan" bagis atu sama lain, sok2an liat "ingin di sia bahagia" pdhl lbh bahagia kalau bersama #uhuks hahaha

    ReplyDelete
  21. Hawwuuu~
    Ini ka Uniek cerdas banget mengolah cerita dengan penuh kegetiran.
    Aku tau, tokoh utama itu layak untuk di injak dan sengsara.
    Tapi yang baca ikutan ngeneesss...

    Monaaa...
    Kembalilaah.
    Ada Du yang menanti dengan kehangatan cinta yang sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh..tiada bermaksud menginjak dan menyengsarakan lhooo... Mona memang susah dikasih tau soalnya. :))

      Delete
  22. wih, ceritanya cukup padat namun tetap asyik untuk dibaca nih mba, keren ihhhh. lanjutkaaaan

    ReplyDelete
  23. Oow ternyata Duri itu nama cowo ganteng si fotographer toh. Jadi Mona cemburu nih ceritanya sampai pergi gitu, apa gak bisa dibocarakan dulu apa jadi kan tau masalahnya apa hahaha pembaca ngeyel padahal gak nulis. Mbak Itu gak ada kelanjutan ceritanay biar happy ending gitu? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ntar kalau pas jiwa baikku muncul, kubuatin deh ya yang happy ending.
      Tapi aku ga relaaa... Du ga boleh jadi milik siapapun. :D

      Delete
    2. Du ini kalau diperanin sama aktor Korea cocoknya siapa, kak Lia...?
      Im vote for Jang Hyuk kali yaa...
      Rada bad boys tapi sayang sama pasangannya.

      Delete
  24. ya ga rela banget selesainya sedih, aku udah seriusin bacanya berharap bakal bersatu Du sama Monanya, atau jangan-jangan ceritanya bersambung niy mba Uniek?

    ReplyDelete
  25. Aahh, kenapa kisah cintanya mirip aku sama mantan pacaar wakkaka
    Putus kagak, nyambung kagak,
    Karepmu opo to Du, Mona? Ra usah ngikutin cerita hidupku
    Gemesh deeeh..wakakkakaka

    Ternyata gemesnya mereka sama Kami begini yaa, dong dong..

    ReplyDelete
  26. Baca ini aku kayak lagi ngeliat adegan di drama korea mba hahahha 😂. Abis soal cinta-cintaan dan yang kebayang ama aku cuma drama korea. Seorang cwo yang tampan dan perempuan biasa 😍. Aku suka drama korea soalnya 😍

    ReplyDelete
  27. Kok jadinya gitu sih Du, nyesel kan gitu tahu si pujaan udah menghilang

    ReplyDelete
  28. Du..du..du..du..du...du..du..du..ho..o..o.. *ebiet mode on wkwkkw Mona, oh mona..mo nabok nih jadinya habis pada gitu ngomong dong ngomong!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dani loh malah nyanyi, ini kisah sedih loh, wkwkwkk
      Gemes ya Dan, kagak ada yang mau ngomong duluan jadinya ya gitu deh, nyesek akhirnya

      Delete
  29. waa kayanya seru juga ya ini kalo dijadikan film hihihi, bener ini jadi kaya drama korea jadinya hihihi

    ReplyDelete
  30. Hiks...
    Duri di hati...
    Emang ngeganjel yaks hahaha.
    Tapi kenapa Mona gak ngabarin Du sih...
    Mbok wa aja gitu lhoo...
    .
    Wkwkwk gak rela endingnya kayla gitu 😁
    Happy ending aja dung

    ReplyDelete
  31. Aduuh bikin gemeez aja, kenapa si Mona gak tanya langsung aja sih biar gak salah paham, dan itu si Du nya mau cerita kok telaat huhuhu.
    Semoga suatu saat mereka bisa ketemuan lagi dan happy ending deh.

    ReplyDelete
  32. Duh, makjleb. Nggak usah dicintai deh kalau nggak dicintai. Daripada sakit hati kan? Bukankah cinta harus dari dua arah ? #eh jaid ngedrama nih. Haha Mbaa mantap fiksinya keren

    ReplyDelete
  33. Du dan Mona sepertinya butuh pertolongan pertama pada urusan mereka hahaha :) Anak muda emang serba gengsian ya. Entah karena malu atau takur salah bicara, akhirnya pada diem deh semua. Tau2 kehilangan aja kan makin sedih, mewek ah hihihihi :D

    ReplyDelete
  34. aku keseeeel hehehehe. Ayuuu Du, cari Monaaa..find the love of your life and never let go! Kok jadi akuuu yang emosi Mba Un hehehehe

    ReplyDelete
  35. Du dan Mona saling mencintai. Seharusnya mereka bisa bersatu. Sayangnya gak ada yang terbuka dengan perasaannya masing-masing, ya

    ReplyDelete
  36. Hubungan paling menyebalkan kayak gini nih. Bukannya saling ngomong tapi malah ngomong dalam hati masing2 😅. Ini bersambung apa cuma sampe sini aja kak?

    ReplyDelete
  37. Memang yang akan menjadi masalah dalam setiap hubungan adalah komunikasi. Kenapa sih harus gengsi-gengsi segala, jadinya sad ending kan? Huhu..

    ReplyDelete
  38. Ih, Mona. Kamu sensi, deh. Kalau gini kan kalian jadi sama2 sakit ati. Trus, penonton kecewa, deh. Hihihi...

    ReplyDelete
  39. Kebiasaan nih, sukanya main kebatinan, ujung-ujungnya kasih tak sampai. Nyuesek jadinya, trus bakalan jadi tanda tanya yang berlarut-larut. Buahahah, kok malah curhat. Btw, kalau lanjut kira-kira happy ending atau tetep sad aja nih?

    ReplyDelete
  40. Ish ish gemes, Mona kok gitu sih, ambil keputusan tanpa konfirmasi dulu.
    Eh, kok aku yang jadi emosi sih.

    Tadinya udah ngantuk, baca ini kok jadi melek lagi

    ReplyDelete
  41. Begitulah perempuan, kebanyakan lebih suka menyimpan masalahnya dalam diam. Lalu diam-diam mengambil keputusan sendiri.

    ReplyDelete
  42. Tokoh Du, bikin inget mas Duri wkaakka yang di Ungaran itu mba Uniek.
    Kasihan Mona ya Mba, semoga diberikan rejeki melimpah bersama orang-orang seperjuangannya
    Ayok lanjut mba Uniek, aku kepo terusannya.

    ReplyDelete
  43. Biasanya kalau sudah suka dengan satu profesi tuh gitu ya bisa larut dengan apa yang dikerjakan. Terus ya apalagi kalau suruh nebak isi hati, kadang aku pengen jawab "akukan bukan paranormal" hahahahaa... btw ini gemes-gemes manja gitu deh ceritanya mbak Uniek.

    ReplyDelete
  44. Ngga relaaa, siapa sih penulisnya kok tega banget memisahkan dua sejoli ini..huhu...

    ReplyDelete
  45. Keren cerita fiksinya.
    Kirim ke koran, Niek, kan suka ada tuh rubrik budayanya tiap hari sabtu atau minggu.
    Ku jadi pengen nulis fiksi juga :)

    ReplyDelete
  46. Mereka yang salah paham, pembaca yag dibuat gemas.. Hoii Du mbok ya ngomong ke Mona. Hei Mona jujur dong ama Du.. Wah mbak, maafkan daku yg ikut gemas dengan mereka berdua.

    ReplyDelete
  47. Ceritanya ini hampir kayak kejadian nyata ya mbak aku soalnya gengsian juga orangnya...keren mbak karyanya ini..seneng baca nya

    ReplyDelete
  48. Endingnya dalam banget "semoga kepergianku jalan terbaik". Semoga kepergiannya jadi kebahagiaan buat mereka di masa depan ya.

    ReplyDelete
  49. Kalau aky tim nyablak ga bisa maen pergi gitu aja Mon, duh ya kan jadi emosi wkwk ah Du ente jg salah dah kudu jujur bagus mba ceritanya

    ReplyDelete
  50. Yaaah kirain happy ending ternyata sad ending. Kasihan Mona ya hanya mencintai tapi tak memiliki. Semoga ada kelanjutan ceritanya Mbak.

    ReplyDelete
  51. Seperti namanya 'duri' memang tidak nyaman disimpan dalam hati. Lepaskan, bebaskan, itu pilihan yg paling nyaman, paling tidak bagi mona.... :)

    ReplyDelete
  52. Tolonglah, Mba Un.
    Kasihani Du dan Mona.
    Sekali ini saja, po, happy ending, giccu lho,
    Please... please...

    ReplyDelete
  53. kenapa begitu sih endingnya ..aku kezell . Harusnya ada yang jadi mak comblang mereka. hmm..apa enggak ada mutual friendnya yang bisa ngejelasin semua ya? Hh

    Keren Mbak Uniek! Kusukaaa!!

    ReplyDelete
  54. Duh duri itu memang bau diletakkan dimana saja rasanya selalu perih wkwkwk. Ini hapoy ending dunk biar pembaca gak greget wkwk

    ReplyDelete
  55. Hadeuuh bisa nggak sih aku dimasukkan ke dalam cerita ini, Mak? Kuingin memberitahu Du dan Mona yang sebenarnya!!! Mereka harus balikan. Titik.

    ReplyDelete