Misteri Bombyx Mori


"Kurasa dia melihatku."

Robin mengungkapkan kecemasannya itu kepada Strike, bosnya, saat mereka berdua sedang berusaha sekuat tenaga untuk memecahkan kasus hilangnya Owen Quine. Robin merasa kegiatan rahasia yang dilakukannya telah terendus oleh target penyelidikannya.

Cormoran Strike, seorang veteran tentara yang kehilangan separuh kakinya saat terkena bom di Afghanistan, berprofesi sebagai detektif partikelir yang jasanya banyak disewa oleh klien-klien putus asa, yang biasanya membutuhkan kepiawaiannya untuk mengintai. Entah itu mengintai kekasih gelap yang dicurigai, mengendus-endus kecurangan seseorang, dan berbagai kebutuhan klien untuk membuktikan sesuatu dalam rangka memenangkan pertikaian internal rumah tangga. Bayaran per jamnya sangat fantastis untuk pekerjaan-pekerjaan semacam ini.

Namun di luar dugaan, saat Leonora Quine (istri Owen Quine) meminta bantuannya untuk menyelidiki raibnya sang suami, Strike justru menerima tantangan ini dengan mengabaikan kemungkinan mendapatkan bayaran yang tinggi. Ada sesuatu dalam diri Leonora yang menggugah rasa kemanusiaannya.


Dalam atmosfir kepenulisan di sekitarnya, Owen adalah penulis yang sangat menjengkelkan bagi semua orang. Apalagi sesaat sebelum hilang itu, Owen telah membakar harga diri banyak orang dengan karyanya yang berkesan keji, mesum dan sarkastik. Bagi orang-orang yang mengenalnya dengan baik, tokoh-tokoh yang diceritakannya tampak sekali sebagai usaha untuk menjelekkan semua orang terkait secara blak-blakan. 

Banyak kecurigaan kemudian menghambur kepada para tokoh asli yang digambarkan di calon novel Owen yang berjudul Bombyx Mori ini, terutama setelah Owen ditemukan terbunuh dengan cara super sadis. Persis dengan yang diceritakan oleh Owen sendiri di naskah hasil karyanya itu.

Strike bersama asistennya Robin harus bekerja extra untuk memecahkan kasus ini. Bukan karena jasa mereka dibutuhkan oleh kepolisan Metro (yang sebenarnya merasa jengkel tiap kali Strike berada di tempat kejadian), namun lebih kepada pembuktian bahwa Leonora Quine bukanlah pembunuh Owen Quine, suaminya sendiri. Leonora telah ditetapkan oleh kepolisian sebagai tersangka.

----

Silkworm alias ulat sutra ini merupakan karya Robert Galbraith (JK Rowlings) yang lika liku ceritanya tetap sama memukaunya dengan Harry Potter. Ada berbagai dentuman kejutan yang selalu saya tunggu kehadirannya di lembar-lembar selanjutnya. Agak susah mencerna saat saya mencoba untuk melompat langsung ke beberapa halaman ke depan, karena di setiap lembar dan setiap baris tersimpan petunjuk-petunjuk penting untuk bab berikutnya.

Itu terbukti saat semua kejadian yang diceritakan sebelumnya saling berkaitan. Saya bahkan harus kembali ke halaman-halaman sebelumnya untuk membuktikan kepiawaian Galbraith dalam meletakkan berbagai petunjuk penting maupun kejadian di masa lalu yang mendasari kisah lanjutan di bab-bab sesudahnya.

Kenapa postingan ini saya beri judul Misteri Bombyx Mori?

Ya karena keseluruhan cerita yang dikemas dengan 'napas panjang' ini sebenarnya berputar-putar di sekitar bombyx mori itu sendiri. Bombyx mori adalah nama latin untuk ulat sutra alias silkworm yang menjadi judul novel kedua Robert Galbraith pasca sukses besarnya dengan The Cuckoo's Calling yang tokoh utamanya sama, seorang private investigator bernama Cormoran Strike.

Tahukah kau bagaimana orang mendapatkan sutra dari ulat-ulat itu?
Direbus hidup-hidup, supaya ulat-ulat itu tidak merusak kepompong dengan meronta keluar.
Kepompong itulah yang terbuat dari sutra

Owen Quine, seorang penulis yang merasa karyanya luar biasa, menjadi tokoh sentral dalam novel ini, meskipun kehadirannya dalam kondisi hidup sangat singkat. Kematian dengan cara yang mengerikan dialaminya pasca penulisan karyanya yang berjudul Bombyx Mori, yang belum sempat diterbitkan namun ternyata menjadi sangat terkenal. Terkenal bukan karena kualitas isinya, namun lebih pada kedahsyatan sindiran yang dimuntahkannya dalam karya tersebut bagi orang-orang yang selama ini ada di dalam lingkaran hidupnya sebagai penulis.

Sindiran yang kejam itu berakhir dengan membungkam mulut Owen Quine dengan cara yang tak bisa dibayangkan. Out of imagination. Persis sama dengan alur cerita yang ada di Bombyx Mori karya Owen. Sangat sadis dan tidak masuk akal.

Strike terpanggil untuk menuntaskan kasus ini saat Leonora Quine datang kepadanya, memohon padanya untuk menemukan suaminya yang cukup lama menghilang. Semula Strike hanya sambil lalu saja mengerjakan kasus ini karena Leonora tak tampak seperti orang yang sanggup membayar mahal untuk jasa penyelidikannya. Namun ke depannya, bukan masalah bayaran ini yang membuat Strike benar-benar ingin menemukan siapa pembunuh Owen. Posisi sulit Leonora sebagai ibu rumah tangga yang memiki seorang anak berkebutuhan khusus makin menghantuui pikirannya. Belum lagi instingnya yang kuat, yang membuat Strike menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal yang terjadi berkaitan dengan hilangnya Owen ini.

Akhirnya Strike lah yang menemukan mayat Owen di Talgarth Road, di dalam rumah tak berpenghuni, rumah warisan yang memang sebagian haknya adalah milik Owen Quine. Namun selama puluhan tahun Owen sendiri tak pernah menggunakan rumah tersebut.

Berdasarkan bukti-bukti yang didapatkan oleh kepolisian, justru Leonora Quine yang akhirnya ditetapkan menjadi tersangkat. Sikap Leonora yang tidak menampakkan kesedihan, fakta bahwa dia tau tentang perselingkuhan suaminya dan adanya asuransi jiwa yang bisa dijadikan sandaran hidupnya, membuat semua dakwaan jatuh kepadanya.

Strike dan Robin asistennya menggunakan berbagai trik untuk memecahkan kasus ini. Bahkan Strike harus bersitegang dengan teman seperjuangannya dulu di Afghanistan, Richard Anstis, petugas kepolisian yang menangani kasus ini. Strike dianggap mencampuri urusan kepolisian demi kepentingan popularitasnya sendiri.

Lalu benarkah istri yang terluka dan merasa dikhianati suaminya selama puluhan tahun itu yang menjadi pembunuh keji?

Saya benar-benar gemas dengan The Silkworm ini. Serasa berabad-abad membacanya namun tak menemukan juga titik cerah akhir kasusnya. Sama sekali tak terduga. Berbagai petunjuk saling bersilangan tersaji dengan kompleks di novel ini. Namun di balik rumitnya jalinan cerita, saya sangat menikmati bagaimana Galbraith menggambarkan berbagai tempat di London yang menjadi setting cerita. Musim dingin yang bersalju tebal, berbagai tempat klasik maupun cafe-cafe modern, situasi menjelang natal, semua dituturkan dengan detail oleh penulis. Bahkan saya sampai membayangkan situasi Denmark Street, dimana kantor Strike berada, yang kurang pas dijadikan tempat parkir mobil. Juga saat ada seorang wanita jangkung yang berusaha menikam Strike saat dia berjalan di sana.

Yang paling menyebalkan bagi saya justru Owen Quine yang terus menerus dibahas dalam novel ini dan menjadi lebih populer justru setelah dia mati. Antusiasmenya sebagai Bombyx, refleksi dirinya di dalam Bombyx Mori, digambarkan sebagai tokoh hermafrodit yang rela bersusah payah dahulu untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Fantasi seksualnya seperti yang telah tertuang di karya-karya sebelumnya (Hobart's Sin dan Balzac Brothers) tetap mendominasi dan membuat semua orang sebal terhadapnya. Paduan narsisme akut yang menginginkan popularitas dan kepribadian penulis yang super kompleks rupanya mampu membuat seseorang tak tahan lagi di puncak kesebalannya. Dan berakhir dengan pembunuhan.

Kekejian apakah yang digambarkan di novel ini? Kenapa di atas tadi saya sematkan quote berkaitan dengan proses mendapatkan sutra dari kepompong? Terpikirkah seperti itu Owen menemui ajalnya, dengan cara direbus? Tidak loh, bukan seperti itu cara tragis yang dialami Owen dengan kematiannya. Silakan dibaca langsung saja novelnya, penulis menceritakannya dengan detail. Bikin kaget sekaligus tercengang deh.

Apalagi banyak nama berseliweran yang dihadirkan penulis sebagai calon tersangka potensial. Ada Daniel Chard, pemilik penerbitan dimana Owen bekerja, lelaki pendiam yang ternyata memiliki banyak tekanan. Ada Elizabeth Tassel, agen penulisannya yang terkenal suka memeras tenaga dan fee penulis. Juga ada Jerry Waldegrave, sang editor naskah yang menemukan bahwa salah satu subyek hinaan di naskah Owen itu adalah dirinya. Belum lagi Michael Fancourt, teman masa muda Owen yang menjadi musuhnya lebih dari dua puluh tahun. Hmmm... jujur saya semula menganggap Fancourt ini lah pembunuh Owen.

Namun selayaknya novel terjemahan, ada beberapa kalimat yang mungkin penekanannya menjadi berbeda saat dibandingkan dengan versi aslinya. Salah satunya ada di halaman 139 : ....bulu dada yang gelap menciptakan noda hitam di latar belakang dinding biru muda di belakangnya. Saya sampai berkali-kali mengulanginya untuk mendapatkan penggambaran yang pas yang dimaksudkan oleh kalimat itu.

Juga di halaman 395 pada : Si Tambun bolak balik terpeleset dalam sepatu buatan tangannya. Agak membingungkan juga saat harus mencerna kalimat ini. Apa itu sepatu buatan tangannya? Apakah handmade shoes yang dimaksud?

Selain itu ada juga beberapa typo sebagai berikut :
  • Hal. 84 : Laman web yang terkesan amatir itu bernama "My Literary Life", dihiasi gambar pena bulu dan dan foto Kathryn yang sangat menarik.....
  • Hal 85 : Aneh juga bahwa menjadi "Pengasuh" ternyata hanya kedok untuk menyebunyikan sifat Egois.
  • Hal. 85 : Tidak aada gunanya teman, Kakakku sendiri dan Ibuku sendiri.......
  • Hal. 314 : ...dan setelah Robin meletakkan nampan yang sarat di meja Formica, Strike berkata, berusaha meregakan ketegangan
  • Hal. 344 : ...tanya Strike, menjaga suasana tetap riangan.

Namun beberapa hal dan typo di atas tadi tidak mengurangi nikmat dan sensasi membaca novel yang berkelas ini. Ada rasa penasaran dan keingintahuan yang menuntut untuk dituntaskan. Rupanya rumit juga ya kehidupan seorang penulis itu ;)

Akhir cerita di novel ini sangat tak terduga dengan si pembunuh yang mulanya sama sekali tak terpikirkan. Fancourt yang secara historis merasa tersakiti dan saya anggap paling potensial sebagai pembunuh, ternyata tak sekejam yang saya bayangkan. Lalu siapakah sebenarnya yang telah membantu Owen Quine mencapai puncak popularitas lewat kematian yang sangat tidak wajar itu?

Novel seri detektif Cormoran Strike ini layak sekali menghuni rak pribadi pencinta bacaan, khususnya bagi penggemar thriller seperti saya. Meskipun sudah sering membaca karya John Grisham, Steve Martini, Alistair MacLean maupun S. Mara Gd. yang memiliki ciri khas ending tak terbaca, saya tetap tak bisa menebak jawaban akhir misteri bombyx mori ini. Coba, bagi anda yang telah membacanya, setelah tiga perempat bagian buku ini terbaca apakah sudah jelas endingnya ;)  Yang belum membaca, yuuukk buktikan kepiawaian penulis Inggris ini menyajikan kisah yang unik, menantang di tiap lembarnya sekaligus membuat bergidik.

Data detail novel ini :

Judul : The Silkworm (Ulat Sutera)
Penulis : Robert Galbraith
Alih bahasa : Siska Yuanita
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Desain sampul : Marcel A.W.
Terbitan pertama : 2014
ISBN : 978-602-03-0981-1

Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

9 comments:

  1. Udah baca mbak... ngos-ngosan sih tapi sayang untuk berhenti. Tahu jugak gan kalo JK Rowling itu penulis favorit, imajinasinya kuereeen :)

    Eh btw...keren juga bisa nge-review nih novel. Saluuut ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe...luar biasa banget mba rasanya baca plus ngreviewnya ;) Thks a lot for your support :*

      Delete
  2. aku baru beliiii. nunggu dibawa ke sini niih. udah gak sabar juga. :))

    ReplyDelete
  3. AKu pasti membutuhkan waktu yang panjaaang dan laaamaa baca buku ini, kebviasaan bacanya buku2 yang ringan n lucu sih hihihi

    ReplyDelete
  4. Mak... aku juga termasuk salah satu penggemar JK Rowling. Tapi, jujur aja, mak, buat novel dia yang ini, ngga sanggup. Bukan ngga sanggup bacanya dari awal sampai akhir, tapi ngga sanggup buat belinya *halah, abaikan*. Tapi, ngga sanggup buat bayangin ini cerita. Secara novel misteri, detektif. Selama ini baca cerita detektif cuma komik, holmes. Itu aja bukunya ngga setebal ini. Otak belum sanggup buat baca ini. But, anyway, saya jadi mupeng pingin beli ini buku *ngarep ada yang kasih gratis* hehehe

    ReplyDelete
  5. Aku ga tau banyak tentang dia selain sebagai penulis Harry Potter, itu juga aku ga baca bukunya hihihi..... Tapi kayaknya kalau serial detektif bakalan seru ya, mak.

    ReplyDelete
  6. mungkin sensasinya kaya baca Agatha Christie ya mbak, udah yakin aja kalo penjahatnya si A ternyata salah pake bangeet...
    hhmmm...jadi pensaran. Beli ah :)

    ReplyDelete