Happiness Is Just About Ourself


Sudah berapa lamakah saya tak merasakan bahagia?

Jujur saja, saya hampir lupa kapan saya merasa tidak bahagia. Berderet-deret pengalaman berharga yang dahulu saya pikir itu adalah siksa, sekarang ternyata terpatri di dalam jiwa sebagai piagam tak ternilai harganya atas pencapaian hidup.

Saya pernah menceritakan salah satu pengalaman tersebut di blog saya yang lain dengan judul Akan Ada Pelangi Setelah Badai. Di tulisan tersebut masih tersirat sedikit ketidakikhlasan saya menerima masa lalu. Secara tersirat saya masih menganggap kisah lalu itu adalah bagian kelabu kehidupan, meskipun ganjaran yang akhirnya saya terima berlipat ganda level bahagianya. Saya masih belum ikhlas.

Masih menceritakan perjalanan yang sama ke negeri tempat tinggal Michael Ballack, kapten tim sepak bola Der Panzer idola saya itu, kisah berikutnya telah mampu saya bagikan ke teman-teman blogger dengan nada penuh suka cita. Tour de Janggal menjadi manifestasi kebahagiaan saya yang tak terperi atas kesempatan langka yang bisa saya raih.Tak seperti orang lain yang jauh lebih beruntung dengan kepemilikan serentetan nilai mata uang di rekening, yang bisa bepergian ke luar negeri tanpa kesulitan berarti, saya harus membayar perjalanan tersebut dengan pengabdian sepenuh jiwa raga kepada pemilik kapital yang memberangkatkan saya ke sana. Toh saya bisa bergembira saat itu dengan berbagai kekonyolan yang terjadi selama perjalanan tersebut.

Perjalanan telah mengajariku untuk memulai langkah pertama dalam mencari bahagia dan menemukan versi hidup sempurna yang aku cari, dalam setiap tikungannya.

Quote di atas saya baca di buku karya Ollie yang berjudul Passport to Happiness. Kebetulan buku itu amat merepresentasikan tikungan-tikungan tajam yang pernah singgah di rute kehidupanku. Buku yang di tiap helaan napas kalimat-kalimatnya menguar keresahan dari sang penulis. Keresahan untuk berbagi sesuatu yang menguatkan jiwa.

Keingintahuan saya pada buku ini berbanding terbalik dengan rasa ingin tau problema hidup apa yang dialami penulis meski kabar tentang dia saya baca sekilas lalu di riuh rendahnya lini masa sosial media. Apa pentingnya sih mengorek sesuatu yang menjadi ranah pribadi orang lain, dan justru membebani jiwa dengan keingintahuan yang bisa membunuh rasa manusiawi? Bukankah secara psikologis manusia butuh untuk dikuatkan, bukannya malah dilemahkan?


Let's start our happines from ourself.

Yup, pada buku Passport to Happines ini penulis menceritakan perburuan cintanya di 11 kota yang berbeda. Mulai dari Ubud, Dublin, Moscow, London, Seoul, Paris, Marrakech, Istanbul, Almaty, Alexandria dan New York City. Cinta di sini bukan berarti terhadap lawan jenis saja ya, kecintaan dan kesetiaan pada diri sendiri pun tak kalah pentingnya. Diri kita inilah yang notabene akan menjadi teman seumur hidup kita, don't you think so ?

Ollie, saya setuju sekali dengan ini :

Kindness is a universal language to express love
Passport to Happiness, halaman 42

Betapa saya telah merugi saat menukar kebahagiaan saya di masa lalu dengan pola kindness yang amat tipis aplikasinya di perjalanan hidup. Secara egois saya telah membabi buta mengejar kepuasan pribadi tanpa mau melongok kiri kanan. Dan saat ekspektasi yang terlalu tinggi, yang kemudian berbanding terbalik dengan hasil yang muncul, saya menyalahkan orang lain atas peristiwa tersebut. Seperti yang telah saya sebutkan link postingannya di atas, saya terlalu menganggap diri saya sendiri sebagai si maha benar.

Bagaimana bisa kebahagiaan itu saya peroleh bila saya sibuk mempersalahkan orang lain atas semua kejadian yang menimpa diri?

Perjalanan menyusuri Amsterdam, Arnheim, Frankfurt, Cologne, Munster, Wuppertal dan Hamburg selama seminggu telah membuka pintu rasa yang baru. Ekspresi cinta terhadap segala sesuatu, bahkan pada kerja tak kenal waktu selepas perjalanan bak ke alam mimpi itu, bisa saya dapatkan melalui satu keyword yang kekuatannya jauh lebih dahsyat dibandingkan ilmu SEO manapun : SYUKUR.

Keberuntungan mungkin tak akan datang bila saat itu saya menolak ajak pimpinan untuk melakukan perjalanan dinas ke belahan bumi lain. Dan makin ke sini, saya pun menyadari bahwa perjalanan pertama saya itu telah mengawali rangkaian babak baru dalam kehidupan. Saya amat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan itu meskipun saya harus membayar mahal dengan kehilangan moment awal tumbuh kembang putri sulung saya. Selalu akan ada harga yang harus kita bayar kan untuk suatu pencapaian?

Saya amat menikmati perjalanan dinas tadi dengan cara balancing antara kerja dengan pleasure. Meski hanya sepersekian persen bisa jalan-jalan di riuhnya Amsterdam dan Hamburg, saya pikir saya sama beruntungnya dengan Ollie yang menikmati berbagai tempat istimewa yang dihadirkannya di dalam buku ini. Kecintaan penulis pada buku membawanya mendekat ke magnet kuat berupa perpustakaan dan toko buku di berbagai negara yang disinggahinya. Ada Long Room di Trinity College Irlandia, Perpustakaan Nasional Irlandia, toko buku dekat Bolshoi Moskow, toko buku Waterstones London, toko buku Shakespeare & Company di seberang Gereja Notre-Dame Paris, hingga ke Bibliotheca Alexandrina yang merupakan perpustakaan tertua dan salah satu yang terbesar di dunia yang memiliki koleksi buku hingga 8 juta buah.

Pada buku ini pendeskripsian lokasi kejadian amat membuat saya mabuk kepayang. Penulis tak hanya sekedar melekatkan nama tempat tertentu demi kekuatan cerita. Lokasi dan peristiwa yang terjadi di 11 kota dalam buku ini menyatu dengan sangat cantik. Penulis menceritakan dengan penuh kehangatan saat berkelana di Ubud tanpa rencana perjalanan yang jelas. Hanya berbekal buku Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert, penulis mencari sosok Ketut Liyer yang sama sekali tidak dikenalnya sebelumnya.

Begitu juga saat penulis menggambarkan suasana klasik Long Room dalam Old Library di Trinity College. Betapa ruangan berlantai kayu dengan deretan buku sepanjang 65 meter dan lemari setinggi rumah 2 tingkat itu menyita perhatian saya. Saya gemas sekali dengan semua keindahan dan pesona yang dipamerkan Ollie di buku ini. Termasuk saat dia mengisahkan betapa mewahnya trotoar di depan penginapannya di Paris, kemewahan berbentuk trotoar yang lebar dan surga bagi pejalan kaki, satu hal yang amat sulit dijumpai di negeri kita sendiri. Lengkap dengan pepohonan berbaris rapi, seakan mengantarkan diri ke pintu gerbang Menara Eiffel, Trocadero (hal. 82). Aaahh sungguh menawan....

Tidakkah rasa iri menyergap saat membaca pengalaman Ollie ini? Apalagi saya juga orang yang sangat mencintai buku. Tentu saja saya iri. Namun saya juga menyadari satu hal :

Kebahagiaan bukan berada di suatu tempat, bukan juga berada di tangan orang lain, tetapi kebahagiaan itu ada di dalam diri sendiri.
Passport to Happines ~ halaman 128

Saat harus sendirian menghadapi claim dari buyer asal Bremen, masih ada segurat kebahagiaan yang bisa saya selipkan. Negosiasi yang saya hadapi tak seburuk yang saya kira. Tekanan kerja ini masih sanggup saya turunkan levelnya agar tak mengganggu sirkulasi kewarasan. Dalam kesendirian, permenungan di hadapan berlembar-lembar bukti claim tersebut, yang paling terbayang di kepala justru senyum ceria putri saya yang saat itu belum genap berusia setahun.

Si kecil yang saya tinggal bermil-mil jauhnya itu membuat kadar kewarasan saya tetap stabil. saya harus bisa memecahkan masalah agar bisa terus menyaksikan senyum cantiknya. Tak hanya sepulang dari perjalanan jauh ini, namun juga senyumnya di hari-hari berikutnya, saat-saat dimana pertaruhan masa depan putri tercinta saya berbanding lurus dengan kinerja saya selama perjalanan dinas tersebut.

Dalam kesendirian, dalam penjelajahan klausul rumit tentang kompensasi claim, saya tetap merasa sebagai orang yang bahagia. Bahagia karena dipercaya untuk menangani tanggung jawab sepelik ini. Bahagia karena tak memiliki kesempatan untuk mengeluh, harus mengambil langkah strategis secepatnya. Bahagia karena saya sendirian. Sendiri yang memberi saya ruang tak terbatas untuk menajamkan naluri.

Jika kita tidak bahagia kala sendiri, maka kita tidak akan bahagia saat bersama orang lain. Itu kata Ollie dalam buku ini. Itu juga yang kini makin kuyakini bahwa kebahagiaan itu ada pada diri kita sendiri. Happiness is just about ourself.

Temukan berbagai kisah menarik penulis di 11 kota istimewa, yang semuanya tertuang dengan sepenuh jiwa di buku Passport to Happiness. Rekomendasi banget nih untuk jiwa-jiwa yang dahaga.

Masih merasa menjadi orang paling tidak bahagia di muka bumi? Think again...

Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

27 comments:

  1. Bahagia itu dari sudut pandang bagaimana kita bersyukur.. Bagi kami, slogannya: Create our own happiness..

    ReplyDelete
  2. Bahagia itu dari sudut pandang bagaimana kita bersyukur.. Bagi kami, slogannya: Create our own happiness..

    ReplyDelete
  3. Wahhh buku barunya Mbak Ollie ya? She's really inspiring Mbak.
    Lbh dari keywords seo manapun: syukur <-- sukaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaaa waduh nih mastahnya seo...ketauan nih quote saya X_X
      Iya mas, Ollie memang inspiring.

      Delete
  4. Happiness is just about ourself, suka quote nya. Beli ah sblm 2015 rampung, target baca buku msh kurang nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk yuuukk Makrul mari kita giat membaca ;)

      Delete
  5. Wah aku belom baca nih yang ini. Sering liat di gramed tp belom beli. Nanti aku beli ah, nambahin koleksi "kitab suci" jalan jalanku hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Yan, setting tempatnya bagus2. Ollie keren deh sudah kemana-mana dan di tiap tempat ada kisah yg disampaikannya dengan sepenuh jiwa. Nge-blend banget lah yak misalnya itu secangkir kopi nikmat ;)

      Delete
  6. Bener mak. Kebahagiaan itu kita sendiri yg ciptakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mari berbahagia di atas kebahagiaan orang lain juga Mak, itu sangat menyenangkan ;)

      Delete
  7. Alhamdulillah.. Bahagia atau tidak itu berasal dari pemikiran dan hati yang lapang. Semoga masing2 dari kita selalu pandai bersyukur dan berpikiran positif. Aku belum baca bukunya nih jadi penasaran.

    ReplyDelete
  8. Makin banyak baca review buku ini aku jadi pingin beli buku ini beneran kayaknya

    ReplyDelete
  9. aku udah lama nih gk baca buku, hehe. yg ini keliatannya menariik, aku suka nih bukunya anti mainstream, bukut ttp perjalanan tp judulnya ngga pake embel2 kata "travel".

    mba un, dirimu beruntung sekali bisa ke yurop. smoga kpn2 aku bs juga. tp meskipun aku blm bs smpe yurop, bkn berarti aku blm bahagia lho. bcos orang yang paking berbahagia adalah mereka yang masih memiliki dan memelihara harapan. begitu caraku menerjemahkan bahagia :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun bahagia dengan semua kisah perjalananmu Noe, nggak kalah keren kemasannya dibandingin kisah Ollie di buku ini. Aku bahagia di atas kebahagiaanmu Noe *opo to ikiiiiii :))

      Delete
  10. Bahagia bisa didapatkan dimana saja, di blognya mbak uniek juga bisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalau yg baca blogku itu semacam seleb blog macam yg komen di atasku ini, duuuhh bahagiaaaa banget ({})

      Delete
  11. Bukunya benar2 curahan hati terdalam penulisnya. Aku baru sekali baca buku Ollie, dulu kurang suka sih ama isinya. Tapi kalau yg paspport ini kayaknya worth it buat dibaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baca juga yg ini Ihwan, siapa tau suatu saat nanti bisa juga ke Alexandrina, London, Paris, Seoul dan kota2 keren yg diceritakan di buku ini.

      Delete
  12. Mbak Uniek header blognya cakep cakep, ceria gitu kek orangnya. Jadi saya ikut merasakan kebahagian yang punya blognya. Ngomong-ngomong tentang kebahagiaan, banyak sekali passport yang kupunya, salah satunya teman-teman. Tapi saya belum punya bukunya, Mbak, boleh pinjem gaaak supaya aku tambah bahagiaaa...heheeee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astin, agar semua bahagia, aku-kamu-dan penulis buku ini, sebaiknya punya sendiri aja lah bukunya ya ;)

      Delete
  13. Nek moco bukune, mengko marai pengin nang 11 kota tadi piye jal

    ReplyDelete
  14. Aku bahagia tiap kali bisa nyempetin waktu buat baca buku. Opo maneh buku ini, ntar beli pas di Yogya aja :D

    ReplyDelete
  15. trapeling ke luar negeri kok ra ajak-ajak aku toh jeng. enaknyeee numpak montor mabur...wusss!

    tapi bener kata panjenengan, bahagia itu mudah, dan sealu bisa kita rasakan. Hanya saja kadang ya kita yang pemilih dan cenderung pd hal-hal yg belum bisa kejangkau atau hidup menurut ukuran orang lain.

    Susaah, pokoke bukunya joss, kisah perjalannmu juga bikin ngiri je, walau rada bikin galau.

    Moga-moga menang yak :)

    ReplyDelete