Impian Indah di Danau Toba



“Orang-orang yang berpikir lurus dan jujur selamanya akan berada pada mata rantai kehidupan yang paling bawah.” 

Pemikiran inilah yang muncul pada diri Ronggur. Selama ini dia melihat kehidupan ayahnya, Tumpak Bonar (Tebe), yang menghabiskan 35 tahun berdinas militer ternyata tak membawa kemajuan berarti dari sisi ekonomi. Hidup keluarganya serba pas-pasan saja. 

Meskipun di dalam hatinya Ronggur amat mengagumi kejujuran ayahnya, namun hinaan dan pandang sebelah mata dari banyak orang kepada dirinya membuat Ronggur menjadi pribadi yang terus menerus melakukan perlawanan kepada ayahnya sendiri. Segala penerapan disiplin yang dilakukan ayahnya di rumah tak pernah diturutinya. Posisinya makin terasa disudutkan saat dirinya drop out kuliah. Ayahnya menganggap dia pemuda malas yang hanya mau bersenang-senang. Belum lagi saat dirinya dibanding-bandingkan dengan kedua adiknya, Sumurung dan Taruli.
Saat ayahnya mengakhiri karier militernya, mereka sekeluarga harus segera meninggalkan asrama Yonkaf 9 / Cobra di kawasan Serpong, Tangerang Selatan yang telah mereka huni sejak tahun 1998. Ronggur terpaksa meninggalkan banyak teman sepermainannya. Terlebih lagi dia harus meninggalkan Andini, gadis cantik yang telah 5 tahun menjadi pacarnya. Hal inilah yang paling memberatkan hatinya. 

Ronggur sangat mencintai Andini meskipun halangan yang harus dihadapinya sangat sulit. Orang tua Andini sangat menentang hubungan mereka. Selain masalah perbedaan keyakinan, Ronggur juga dipandang sebelah mata karena status ekonominya. Sersan Tebe, ayahnya, bukanlah tentara yang suka mencari tambahan uang kemana-mana. Ayahnya hanya tau Sang Saka Merah Putih, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit dalam menjalankan tugasnya. Meski banyak teman-temannya yang ‘nyambi’ pekerjaan lain, Sersan Tebe seakan tak mau perduli, beliau tetap teguh pada pekerjaan utamanya. 

Berlainan dengan ayahnya yang serius dalam menjalankan dinas militernya, Ronggur justru senang nongkrong bersama teman-temannya di warung kopi dekat kompleks perumahan. Bahkan saat ayahnya mengikuti upacara pelepasan masa pengabdiannya, di saat yang sama Ronggur justru terlibat perkelahian dengan sekelompok preman. 

Sersan Tebe memboyong keluarganya untuk kembali ke bona pasogitnya di pinggir Danau Toba. Di Desa Tarabunga, Opung Boru (ibu dari Sersan Tebe) hidup sendirian bersama 2 hektar tanah yang telah terbengkalai semenjak Opung Victor (ayah Sersan Tebe) meninggal. Sersan Tebe berniat menghabiskan hari tuanya dengan bertani di Tarabunga. 

Tentu saja ketiga anaknya yang semenjak lahir tinggal di kota merasa shock dengan keputusan tersebut. Bahkan Ronggur sempat berniat untuk tetap tinggal, entah bagaimana nanti caranya menghidupi diri sendiri. Namun berkat bujukan ibunya, hati Ronggur mampu ditaklukkan dan bersedia mengikuti ayahnya pindah ke desa sepi yang jauh dari hingar bingar kota dengan segala minimnya fasilitas. Meski telah menjalani hidup tujuh bulan di Tarabunga, perselisihan antara Sersan Tebe dan Ronggur tak juga menyurut. Di satu sisi Sersan Tebe kecewa dengan perilaku anaknya yang tak punya keinginan untuk maju ataupun perduli dengan lingkungan sekitarnya. Sedangkan di sisi lain Ronggur merasa apapun yang dia lakukan tak pernah benar di mata ayahnya. 

Maka Ronggur pun nekat untuk kembali ke Jawa, mencari Andini kekasihnya. Bukan sambutan hangat yang didapatkannya, justru kenyataan pahit lah yang harus diterimanya. Andini telah bertunangan dengan Irwan, teman Ronggur di masa SMP. Orang tua Andini pun terus saja melecehkan hidupnya yang tak tentu arah. Bahkan sempat menghina kondisi ayah Ronggur yang serba tak berkecukupan dalam hal materi. 

Salahkah Ronggur jika akhirnya dia ingin segera menghentikan kondisinya sebagai orang yang serba tidak punya? 

Perkenalannya dengan seorang gembong narkoba mengubah total hidup Ronggur. Meskipun beresiko tinggi, kini Ronggur mampu membeli apapun yang dia mau. Dengan penuh kepercayaan diri, Andini pun kembali direbutnya dan kemudian diperistri meskipun tetap tanpa restu kedua orang tua Andini. Mereka menikah di Desa Tarabunga, disaksikan seluruh keluarga besar Ronggur dan semesta Toba. 

Kebahagiaan pernikahan Ronggur dan Andini lengkap sudah dengan kehadiran Martua Langit Cerah alias Choky putra mereka. Namun masa lalu Ronggur di ‘jalan hitam’ itu ternyata tak bisa lepas juga dari kehidupan keluarga mereka. Lagi dan lagi, ajakan untuk berbisnis narkoba kembali datang. Meskipun Ronggur berusaha untuk lepas, namun jeratan jaringan yang terus mengancam keamanan keluarganya itu membuatnya terpaksa kembali lagi. 

Akankah hidup Ronggur terus-menerus dibayangi mara bahaya? Akankah sirna juga impian indah ayahnya yang begitu ingin melihatnya dalam balutan seragam Akmil dan memberi hormat dengan gagah? 

BATAK & MILITER


Baru kali ini saya membaca novel yang ditulis oleh seorang purnawirawan. Berlatar belakang cerita kehidupan tentara dengan pangkat terakhir Sersan Mayor, novel ini penuh dengan aneka warna cerita. Mulai dari kehidupan tentara yang harus selalu siap memenuhi panggilan tugas, suka duka kehidupan keluarga tentara, sampai ke indahnya budaya Batak yang diusung penulis. 

Berbagai istilah Batak macam bona pasogit juga baru saya ketahui dari novel ini. Bona pasogit memiliki arti kampung halaman. Meski seumur hidupnya dihabiskan dalam karier militer, Sersan Tebe tetap ingin kembali ke bona pasogitnya untuk menghabiskan sisa usia. 

Saya juga baru tau tentang adat pernikahan yang ada di desa yang terletak di pinggir Danau Toba itu. Mulai dari marhori-hori dinding, marhata sinamot, martumpol dan martonggoraja, tingting hingga manjalo pasu-pasu parbagasan. Saya serasa ikut dalam khidmat dan keharuan proses pernikahan Ronggur dan Andini di Tarabunga tersebut. 

Ada sedikit pembahasan tentang perbedaan keyakinan di novel ini, namun tidak mengarah ke SARA. Banyak pernikahan beda agama terjadi, namun penulis sanggup menghadirkannya sebagai salah satu penguat cerita dengan cara bijaksana. Tanpa menghakimi. 

Saya tertarik dengan novel ini saat melihat covernya. Biasanya saya kurang tertarik dengan novel yang covernya sudah diwarnai dengan ‘narasi film’. Tapi entah karena faktor Vino G. Bastian atau apa lah, saya jadi mau tau banget dengan ceritanya. Saya pernah melihat aksi Vino di film Serigala Terakhir. Dan saya pun jadi membayangkan aksi Vino yang kurang lebihnya sama, bergelut dengan kerasnya kehidupan. Saya membaca novel ini tanpa melihat filmnya terlebih dahulu untuk mendapatkan ‘ruh’ yang utuh dari buku asalnya. Sama dengan dulu saat saya membaca terlebih dahulu buku Harry Potter sebelum melihat filmnya. Banyak imajinasi yang terpangkas di filmnya. Dan saya tak ingin kehilangan nyawa cerita Toba Dreams ini dengan melihat filmnya terlebih dahulu. Takutnya nanti malah meleng melihat si imut Vino dibandingkan khusyu’ mengikuti ceritanya ;) 

Namun bagi yang ingin melihat trailer filmnya terlebih dahulu, silakan loh :




AMBISI ORANG TUA & PEMBERONTAKAN SANG ANAK


Sersan Tebe yang terburu-buru ingin berangkat perang selepas lulus SMP telah mengubur impian ayahnya untuk memiliki anak yang bisa kuliah di Akmil (Akademi Militer). Oleh karena itu Sersan Tebe sangat menaruh harapan kepada putra sulungnya Ronggur untuk bisa memenuhi impian ini.

Namun Ronggur yang memiliki kekerasan hati setara dengan ayahnya, tak bisa semudah itu diperintah. Selama ini segala perintah Sersan Tebe kepada anak buahnya di militer selalu dipatuhi dan dihormati. Reaksi Ronggur terhadap semua perintah Sersan Tebe sungguh membuat sang ayah frustrasi. Selain menolak masuk Akmil, Ronggur juga drop out kuliah dari fakultas teknik gara-gara berkelahi di kampus. Tak nampak tanda-tanda penyesalan di diri anaknya tersebut, entah dengan melamar pekerjaan atau berusaha apa yang sepantasnya. Ronggur justru senang sekali nongkrong di warung kopi bersama teman-temannya. Keluyuran tanpa arah.

Selain ingin menghabiskan sisa umur di kampung halaman, Sersan Tebe berusaha menjauhkan Ronggur dari pengaruh buruk teman-temannya di kota. Diharapkan dengan menyepi di pinggir Danau Toba, Ronggur dapat belajar tentang kehidupan dan mulai menata masa depannya.

Lagi-lagi Sersan Tebe harus kecewa. Ronggur tetap melakukan perlawanan terhadap semua keinginannya. Bahkan puncaknya Ronggur nekat minggat kembali ke Jawa untuk mencari jati diri dan cinta sejatinya. Ronggur ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa selama ini ayahnya telah salah menilainya. Dia dapat menjadi orang yang sukses, tidak seperti ayahnya yang seumur hidup dilanda masalah ekonomi meskipun telah mengabdi sepenuh jiwa dan raga kepada negara.
"Keberhasilan bukan karena kamu bisa jadi orang kaya, tapi karena kamu bisa jadi orang baik." ~ hal. 156
Tetap saja Ronggur harus menerima kepahitan saat keluarganya mempertanyakan darimana semua asal kekayaan yang dimilikinya dalam waktu singkat. Bagi Ronggur, menjadi kaya dan tidak dihina orang lain jauh lebih penting. Apalagi selama ini ayahnya sendiri yang selalu menganggap dirinya anak yang gagal di antara saudara-saudaranya yang lain.

KAYA WARNA & KAYA CERITA


Novel ini mengakumulasikan berbagai kenyataan hidup versus impian indah. Tentang seorang mantan prajurit yang handal di medan perang yang tak berdaya terhadap anaknya sendiri. Tentang pergulatan hidup yang keras seorang anak manusia yang mencari jati diri. Juga tentang indahnya alam di sekitar Danau Toba dengan segala kebersahajaannya.

Menurut saya, terlalu banyak cerita yang ingin dijejalkan oleh penulis dalam setiap babnya. Bahkan beberapa kali penulis menyampaikannya bagaikan berondongan senapan tempur ;) Di beberapa kisah saya sampai mengikutinya dengan terengah-engah. Misalnya saja di halaman 37 sampai 42, dimana inti ceritanya tentang Ronggur yang akhirnya terpaksa ikut pindah ayahnya ke kampung. Cerita bergulir hingga ke masa lalu saat Ronggur mulai jadian dengan Andini. Bahkan muncul kisah tentang Irwan juga, kompetitor Ronggur dalam mendapatkan Andini. Semua memang berkaitan ceritanya, namun tampak 'umpel-umpelan' di halaman-halaman tersebut.

Yang saya sebutkan di atas tadi masih masuk pada bab pertama Toba Memanggil. Berbagai cerita menarik tersaji di bab tersebut, namun bagi saya pembukaan yang dilakukan penulis ini bagai gebrakan yang terlalu mengagetkan.

Penulis juga kadang memberikan narasi yang terlalu panjang atas suatu kondisi, misalnya pada asal usul kekayaan orang tua Andini di halaman 142. Namun saya juga menyadari bahwa latar belakang ini ada kaitannya juga dengan alasan betapa inginnya orang tua Andini mendapatkan menantu yang bibit, bobot dan bebetnya lebih baik dari mereka.

sumber : Di Balik Layar "Toba Dreams"

Saya paling suka saat penulis mengkisahkan kehidupan Tarabunga yang damai dengan Opung Boru yang rajin berdendang. Di halaman 83 beliau menembang lagu Nunga Loja Dagingkon dengan harapan semoga Tuhan menjaganya di tempat tidur. Juga saat Opung Boru menambal bajunya sembari menyenandungkan Ise Do Ale Alenta, lagu yang memiliki makna sahabat yang sejati adalah Tuhan. Gara-gara melihat poster filmnya, saya jadi penasaran bagaimana Jajang C. Noer membawakannya ya ;)



Mata Sersan Tebe menerawang, membayangkan Sang Merah Putih yang berkibar penuh keagungan. Matanya membayangkan Ronggur mengenakan pakaian seragam Akmil yang sangat dicita-citakannya. Dia tampak begitu gagah memberi hormat dalam suatu upacara kemiliteran yang begitu dia rindukan.

Bagaimanakah akhir impian Sersan Tebe yang telah hidup damai di Tarabunga, desa di pinggiran Danu Toba? Akankah mimpi-mimpinya berakhir bahagia? Semuanya tersaji secara 'menggigit' di novel ini, yuuukk baca ;)


Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

23 comments:

  1. vinoooo....dunia militer emang g seindah yang dibayangkan...*pengalaman pribadi klg abri kabeh xD
    tpi aku suka quote mb sukses bukan kaya tapi jadi org baik *noted buay diri sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga suka quote itu Cha sambil mbayangin Mathias Muchus yg ngomong. Keren banget ketoke yaaaa...

      Delete
  2. ya ampuuuuuunnnn jd Toba Dream ini judul buku yg akan difilmkan toh ...hahahahaha..aku ngeliat di koran ato di manaaa gitu mba, kalo TOBA DREAM dpt bnyk pujian... tau ga aku kira apaan? Lapo Toba Dream yg di tebet sana wkwkwkwkwk ;p Restoran Batak itu jg selalu rame soalnya... Tapi jelas ga halal ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan aku pun baru tau klo ada lapo bernama Toba Dream di situ hihihiii....

      Delete
  3. Baguss resensinya...lengkap..jd makin penasaran dg novelnya, benerr jg sih, lbh baik baca novelnya dl sblm nonton filmnya. Terkdg jrg ada film yang mampu menghadirkan ruhnya sebaik novelnya...

    ReplyDelete
  4. Wah, jadi penasaran pengen baca buku pak TB Silalahi. Baru tahu juga nih kalo beliau bikin novel.

    ReplyDelete
  5. Katanya mendingan baca novelnya dulu biar tau semua printilannya sebelum nonton filmnya yang (biasanya) bakal banyak potongan. Tapiii, nek dari awal tau bakal ada Vino... mana tahan gak buru2 nonton yak. Hahahaha. #TeamVino

    Baca penggambaran karakter Ronggur jadi inget aku pas SMA. Jadi kangen Mama pula T___T

    Nice review Mak Un. Lengkap kap kap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iiiihh ikut2an antri di team Vino yaaa.... *gusah mami ubii :D
      Habis liat trailer filmnya juga pengin nonton nih Ges, tapi baca novelnya dulu tetep harus dooonkkk...

      Delete
  6. Jadi pengin ke Toba lagi :(

    ReplyDelete
  7. Kereenn reviewnya lengkaapp kaap kaapp..

    Mau baca juga ahh

    ReplyDelete
  8. aku fansnya Vino nih... dia kalo main total banget biasanya, tidak terganjal dengan wajah tampannya (apasih?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Loh, ini teamnya Dude apa Vino siyyy... sini salim dulu sama neng Marsha Timothy nya? ({}) ~o)
      *kesadaran mulai limbung

      Delete
  9. Wuih, lengkap bgt resensinya. Mantap

    ReplyDelete
  10. belum sempet nonton ini film :(


    mampir2 lah ke blog ala-ala gue di www.travellingaddict.com

    ReplyDelete
  11. Aku belum sempet nonton filmnya mbak, apalagi baca bukunya.
    Nanti cr download-annya ah abis baca review ini jd tertarik :D

    Ehem, abang Vino dpt aktor terbaik lho di Indonesian Choice Award di Netv :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuiiihh selamat dulu dong abang Vino (y) ...nggak sia2 selama ini dukunganku =))
      Baca bukunya Mel sblm nonton filmnya, biarkan imajimu menari2 dg bebas dulu. Soal Vino itu udah jatahku <:-p

      Delete
  12. Bagus ya novelnya...Ceritanya ntriguing tapi dekat dengan kenyataan sehari-hari...kayak apa ya filmnya nanti..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah tayang per 30 April yg lalu mak...tapi aq blm nonton.

      Delete
  13. Keren. saya belum nonotn. dari dulu saya ngefans sama TB Silalahi

    ReplyDelete
  14. Sippp... keren deh ulasannya mbk uniek. jadi pengen segera baca Bukunya, di gramed sdh ada kan ya? Juga pengen nonton filmnya, sptnya kok seru banget...

    ReplyDelete