Pesona Intan dan Perempuan



Judul Buku : Galuh Hati
Penulis : Randu
Penerbit : Moka Media
Penyunting : Sapuroh
Penyelaras akhir : Faisal Adhimas
Penata letak : Erina Puspitasari
Desainer sampul : Oxta Estrada
Genre : Novel
Jumlah Halaman : vi+294
Cetakan pertama : 2014
ISBN 10 : 979-795-816-7




 Saat itu langit seolah-olah menjadi pemarut kunyit raksasa 
yang menjadikan semesta luruh dalam warna pucat kuat. 
(tentang Senja Kuning, hal. 2)


Begitulah masyarakat Cempaka mempercayai arti kemunculan Senja Kuning di desa mereka. Senja yang sering menimbulkan kecemasan saat muncul di hamparan langit. Ada kematian yang tercium dalam tiap Senja Kuning.

Cempaka adalah desa yang dipenuhi dengan ketegaran para pendulang intan yang mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan mereka. Kedatangan Senja Kuning yang menjadi pertanda ada salah satu dari mereka tertimpa bencana di lokasi pendulangan sudah menjadi hal yang biasa. Banyak anak lelaki yang terenggut kesempatan menimba ilmu di sekolah gara-gara pekerjaan ini. Anak lelaki yang tidak membantu bapaknya mendulang intan bukanlah lelaki sejati. Lelaki sejati bagi warga Cempaka adalah mereka yang sanggup menghasilkan intan / galuh dari waktu ke waktu.

Cap bukan lelaki sejati disandang Abul karena dia bisa terus bersekolah. Ayahnya yang mengalami cemoohan setelah tangannya cacat gara-gara terkena musibah di lokasi pendulangan, justru melarang Abul untuk menjadi pendulang intan. Abul harus sekolah. Abul harus menjadi orang yang bernasib lebih baik dari orang-orang di sekitarnya, itulah harapan ayah Abul.

Abul pun akhirnya membantu ibunya di warung yang didirikan di lokasi pendulangan. Mengamati kehidupan keras para pendulang intan dari dekat merupakan makanan sehari-harinya. Dan Abul pun berkesempatan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Kai Amak, seorang pendulang intan hebat di jamannya, yang telah tua dan bertubuh tambun, turun kembali untuk mendulang intan. Bahkan Abul pun secara tak terduga di malam hari diajak mendulang intan di tempat rahasia.

Keberadaan Abul bersama dengan Kai Amak itulah yang kemudian menjadi awal berbagai peristiwa yang harus dialami oleh Abul dan Gil, sahabat barunya di sekolah. Setelah malamnya mengajak Abul mendulang intan, pagi harinya Kai Amak ditemukan meninggal dunia. Sungguh kebetulan yang mencurigakan dan mengundang keingintahuan Abul. Ada satu rahasia yang telah disampaikan Kai Amak malam itu kepada Abul disertai pesan untuk menjaga rahasia itu dengan nyawanya.


Selama bertahun-tahun di Cempaka telah beredar cerita adanya Galuh Hati, intan yang lebih kuat, lebih indah dan lebih besar dari intan-intan yang pernah ditemukan di Cempaka sebelumnya. Konon, Galuh Hati tak perlu dipotong. Secara ajaib, permukaannya telah bercahaya saat Galuh Hati masih terpendam di dasar bumi. Setiap ruas telah diiris dan bentuknya menyerupai jantung manusia (hal. 23).

Menurut kabar burung, seorang pendulang bernama Antas lah yang berhasil menemukan Galuh Hati. Hanya Kai Amak lah satu-satunya orang di desa itu yang mengenal Antas. Di malam sebelum kematiannya Kai Amak bercerita panjang lebar tentang Galuh Hati, Antas, dan Sarah, sesosok perempuan yang sangat dicintai oleh Antas, bayangan kekasih idaman yang sangat diimpikan oleh Kai Amak.

Pada hari kematian Kai Amak, seorang laki-laki asing mendatangi rumah Abul dan menanyakan apakah sebelumnya Abul bertemu dengan Kai Amak. Berbagai peristiwa mencurigakan terjadi setelah itu. Orang aneh yang bermunculan, Abul dibuntuti kemana-mana hingga akhirnya terjadi penganiayaan fisik kepada Abul. Apa sebenarnya yang terjadi di balik kisah Galuh Hati dan kematian Kai Amak itu?


***

Hingga kini  saya hanya mengenal pesona Martapura saat membincangkan intan. Rupa-rupanya ada tempat lain di sana yang menjadi pusat pendulangan intan. Cempaka, salah satu desa di Banjarbaru yang dijadikan setting oleh penulis. Selama ini saya membayangkan enaknya hidup para penghasil intan itu. Pastinya kaya raya dan hidup enak.

Aku tahu bahwa intan dibentuk dari proses kimiawi mineral 
yang mengkristal selama jutaan tahun di dalam perut bumi. 
Namun, kenyataan itu menjadi omong kosong 
saat aku menyadari bahwa tidak ada perut seorang pendulang pun 
yang bisa kenyang selama tujuh hari berturut-turut 
karena intan yang ia temukan. (hal. 22)

I'm totally wrong. Banyak kegetiran yang disimpan oleh masyarakat Cempaka. Menghasilkan banyak intan sih iya, tapi kalau mendapatkan 'banyak' dari intan? Belum tentu.


Novel karya Randu ini membuatku penasaran dari awal cerita hingga ke endingnya. Tadinya kukira novel ini hanya akan bercerita tentang suka duka kehidupan para pendulang intan yang disisipi sedikit bumbu cinta. Ah, ternyata saya kecele. Ada 'keistimewaan' lain di novel ini. 

Lika-liku perjalanan intan hingga akhirnya bisa dimiliki oleh orang berduit secara manis dikisahkan di sini. Juga kompleksnya jalinan cinta yang semula sederhana hingga akhirnya berujung petaka. Wah, komplit benar diceritakan oleh penulis dengan gaya bertutur yang ceria namun penuh kesantunan.

Intan tetaplah intan.
Dia tidak akan menjadi biasa 
hanya karena berada di tempat berlumpur. (hal. 136)

Benar sekali yang diungkapkan oleh Gilardia Florens (Gil), seorang anak penyandang tuna grahita yang tiba-tiba menjadi teman sekelas Abul (tokoh utama novel ini) karena mengikuti ayahnya yang pindah dinas di Banjarbaru. Meskipun pertama kali diremehkan oleh Abul, lama kelamaan Abul menyadari kecerdasan Gil yang jauh di luar perkiraannya. Banyak perkataan Gil yang membuat Abul terkagum-kagum. Salah satunya ya tentang masalah intan di dalam lumpur tadi. Abul pun takjub saat sekonyong-konyong dirinya dipanggil dengan nama Watson oleh Gil. Siapa pula itu Watson? ;)

Saya suka sekali dengan cara penulis mengisahkan rentetan kejadian di novel Galuh Hati ini. Kerasnya kehidupan, pedihnya kisah percintaan, kuatnya persahabatan dan pengkhianatan, semua diramu secara sistematis, tidak tumpang tindih. Tak nampak terburu-buru mengarah ke ending. Justru saya yang kebelet ingin tau endingnya seperti apa :)

Di balik semua keindahan bertutur ala penulis ini, saya ada sedikit ganjelan nih. Saat menuliskan tentang padanan Galuh Hati menjadi Womans Heart, saya sedikit kurang bisa menerima cara penulisannya. Bentuk majemuk untuk 'woman' kan bukan 'womans'. Tadinya saya pikir ini semacam salah tulis semata dan akan menjadi woman's heart di kalimat-kalimat berikutnya. Ternyata tidak loh, dari halaman 150, 151, 153 dan seterusnya tetap tertulis Womans Heart. Okelah, akhirnya saya anggap itu memang penulisan dengan versi tersendiri :)

Ada beberapa typo lainnya lagi, saya sebutkan sebagian saja ya, tidak usah semua. Di halaman 257 pada kalimat "Selain itu, dia memiliki handphone, sesuatu yang tidak biasa bagi bagi sopir kebanyakan." terdapat pengulangan kata bagi. Selanjutnya di halaman 270 ada "Saat dia kembali, di tangannya ada sehelai keras tipis.". Mungkin yang dimaksud adalah kertas, bukan keras.

Terlepas dari typo dan penulisan Womans Heart tadi, novel ini sangat mempesonaku. Terlalu banyak kisah dan kalimat cantik yang tidak mungkin diungkapkan semua dalam satu resensi sederhana :)  Satu kutipan di novel karya Randu ini yang paling saya suka adalah :

Burung camar akan terbang ke selatan meninggalkan sarangnya.


Sampai tak berkedip membaca penggalan kalimat tadi dan mencoba mentautkannya dengan jalan cerita. Saya harap pembaca novel Galuh Hati yang lain pun bisa menemukan keindahan rangkaian kalimat apik lembar demi lembar. Antara intan dan perempuan, dua pesona dunia yang menghadirkan aneka fragmen kehidupan berikutnya. 

Dengan mengesampingkan sedikit ganjelan yang saya alami di atas tadi, saya berani memberikan bintang lima di akun Goodreads. Semoga Randu segera menulis novel berikutnya agar cerita-cerita bagus semacam ini bisa segera saya nikmati kembali.


Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

10 comments:

  1. Sungguh mati aku jadi penasaraaaaannn.... :P

    ReplyDelete
  2. Pengen baca setelah membaca resensimu mbakyu antagonis :P

    ReplyDelete
  3. Aiih Banjarbaru ... tempat aku dibesarkan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mestinya Mb Lia paham ya setting tempatnya klo baca novel ini ;)

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. Gegara ulasanmu bolehkan dakuw minjem mak Uniek ;)

    ReplyDelete
  6. Reveiwnya keren Mak Uniek... mengundang rasa ingin tahu :)
    Semoga sukses utk lombanya ya.

    ReplyDelete