CineUs : Saat Ambisi dan Gengsi Berkolaborasi


Judul buku : CINEUS
Penulis :Evi Sri Rezeki
Penerbit : teen@noura
Genre : Novel Remaja
Jumlah halaman : 304
ISBN : 978-602-7816-56-5



Masa remaja memang selalu mengasyikkan untuk dinikmati. Bahkan untuk yang baru saja meninggalkan masa remaja seperti aku nih, pasti indahnya dulu berpetualang, berkarya maupun bersuka-suka masih lekat terbayang *dilarang protes ;)


Powerfull, enerjik dan penuh ide, itulah gambaran yang paling pas untuk Lelatu Namira aka Lena, tokoh utama dalam novel Cineus karya mba cantik Evi Sri Rezeki ini. Mengambil setting kota Bandung yang adem, dikisahkanlah seorang gadis SMA yang memiliki cita-cita setinggi langit dalam dunia perfilman. Pemimpi kelas wahid dalam menggapai ambisinya untuk membuat film berkelas.

Lena bersama kedua sahabatnya, Dania dan Dion, secara bersusah payah mendirikan Klub Film. Tidak hanya susah saat mendapatkan ijin dari Wakasek Kesiswaan saja, saat mulai memperkenalkan Klub Film itupun juga menjadi cobaan berat bagi mereka. Tak sedikit yang meremehkan, membuang sambil lalu pamflet nonton bersama yang mereka sebarkan ke seluruh murid sekolah Cerdas Pintar, hingga tidak ada satupun murid yang hadir saat pemutaran film bersama karya mereka di aula sekolah. Yang lebih tragis lagi saat majalah sekolah mewartakan bahwa Klub Film mereka adalah klub film picisan.

Berbagai tantangan dan petualangan dilalui oleh ketiga sekawan tadi. Saat klub film mereka telah berhasil mendapatkan sejumlah anggota baru, tidak berarti cobaan telah berakhir. Salah satu dari anggota klub ternyata pengkhianat. Masuk ke dalam klub film tersebut untuk mendapatkan data-data rahasia yang dimiliki oleh Lena, Dania dan Dion.

Sedikit kisah percintaan juga terselip dalam novel ini. Kisah yang getir datang dari Adit, mantan pacar Lena yang dulu memutuskan hubungan gara-gara Lena memenangkan kompetisi sebagai penulis skenario terbaik. Adit yang tak mau terkalahkan, oleh siapapun, bahkan oleh pacarnya sendiri. Tak hanya mengajak putus, Adit juga menjelek-jelekkan Lena sebagai cewek yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemenangan.

Ada juga kisah romansa yang manis. Lena yang penuh ambisi dan obsesi ini akhirnya bertemu dengan Rizki, cowok bertubuh gempal, sesama murid di sekolah Cerdas Pintar, yang ternyata adalah creator dari webisode Stream of Star yang sangat dikagumi oleh Lena. Rizki sangat mahir dalam membuat animasi. Keahliannya inilah yang diinginkan Lena untuk ditularkan ke semua anggota klub filmnya. Lena meminta Rizki untuk bergabung dengan Klub Film. Rizki pun bersedia, rupanya dia menaruh harap pada Lena, gadis manis yang sangat lincah dan penuh ambisi untuk menjadi movie maker terbaik.

Konflik semakin meningkat saat Lena mendapatkan undangan untuk mengikuti Festival Film Pendek Remaja (hal. 23). Sebagai pemenang penulis skenario terbaik tahun sebelumnya, Lena diundang oleh panitia untuk ikut lagi di tahun ini. Tentu saja semangat Lena langsung membara. Bara yang akhirnya menyekapnya manakala datang tantangan dari Adit. Adit mengajak taruhan dalam festival film itu, siapa yang menjadi the looser harus rela menjadi penggulung kabel bagi yang menang selama setahun. Juga harus ada foto mencuci kaki si pemenang dan diunggah di sosmed. Lena pun 'panas' dan menyanggupi tantangan itu.

Oleh karena itu, kehadiran Rizki yang amat mahir membuat film merupakan angin segar untuk Lena maupun klub filmnya. Lena berharap, dengan campur tangan Rizki di dalam klub filmnya, dia tak akan dipermalukan Adit di festival film remaja nantinya. Adit memberikan dua tantangan di dalam taruhannya itu. Lena harus menjadi juara dalam skenario terbaik dan klub filmnya harus menang dalam kompetisi film pendek terbaik. Butuh kerja keras untuk bisa mencapai kemenangan. Maka bahu-membahulah semua anggota klub film melakukan yang terbaik untuk kompetisi tersebut

Berbagai masalah terus mendera Klub Film. Mulai dari direbutnya basecamp, diporakporandakannya bunker temuan Rizki, hingga dicurinya film yang telah susah payah mereka buat. Film yang sudah tinggal proses shooting itu dibajak oleh Romi, mantan anggota Klub Film yang berkhianat dan mendirikan Movie Club sebagai pesaing. Tentu saja 'bencana' ini cukup meresahkan Lena dan semua anggota Klub Film.

Namun akhirnya mereka bisa juga berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kompetisi film remaja. Rekaman seadanya dari handycam Dion digunakan untuk menyusun film pendek. Sesampai di Jakarta, film yang mereka buat harus bersaing ketat dengan buatan Adit, juga dengan film mereka sendiri yang telah dicuri oleh Romi. Selain pertarungan film pendek, persaingan secara individual juga mereka alami untuk kategori penulisan skenario.

Tak disangka-sangka, ternyata skenario buatan Lena yang disusun dengan acak-acakan justru menjadi juara di kompetisi itu. Namun judul yang disebutkan sebagai karya Lena di panggung ternyata tertukar dengan karya Rizki. Skenario "Superhero", cerita seorang anak yang berpura-pura menjadi superhero dengan menciptakan kejahatan-kejahatan kecil yang diberantasnya sendiri. Tentu saja cap cewek 'yang menghalalkan segala cara' untuk menang kembali ditimpakan kepada Lena. Lena dituduh menukar skenario tersebut karena memang dirinyalah yang terakhir kali memegang amplop-amplop berisi skenario yang harus disetor ke panitia.

Benarkah Lena setega itu kepada Rizki yang sangat care kepadanya? Betulkah ambisinya untuk menjadi yang nomor satu dan gengsinya kepada Adit membuatnya menghalalkan segala cara untuk menang?

                          ---------------------------------------------------------------

Seru sekali rasanya membaca novel ini. Penuh gejolak masa SMA yang indah. Apalagi pengemasan masing-masing bab yang menarik. Tiap bab diawali dengan kata Who, mulai dari Who's The Creator?, Who's The Loser?, Who Are You dan seterusnya hingga Chapter 13 : Who's Behind?. Judul bab ini mewakili tiap kejadian yang diceritakan di dalamnya.

Senang sekali bisa mendapatkan pengetahuan baru tentang istilah-istilah di perfilman seperti : webisode, web series, storyboard hingga cameo. Ada yang tau artinya apa semua istilah itu? Makanya baca Cineus biar tau dong ;)

Belum lagi aura keceriaan yang ditebar oleh sang penulis dengan tebaran berbagai lagu di novel ini, salah satunya adalah Live While We're Young dari One Direction.


Juga What Makes You Beautiful yang bersambung dengan Sahabat Jadi Cinta-nya Zigaz yang dinyanyikan Rizki dalam rangka menceriakan suasana sekaligus menebar rayuan ke Lena. 


Oemjiiii...begitu bersemangat dan penuh gairah muda. Musik memang selalu menceriakan suasana. Jadi inget jaman ngejogrok nikmatin New Kids On The Block dan Backstreet Boys deh. Ihiks, jadi ketauan angkatan tahun berapa nih daku :)

Semangat luar biasa yang ingin dishare oleh penulis terlihat saat Klub Film berhasil berdiri melalui perjuangan yang tidak mudah. Diakui sekolah sekaligus mendapatkan basecamp, walau kondisinya tidak layak pakai. Ilustrasi basecamp Klub Film ini mengingatkanku pada markas-markas imajiner milik Pasukan Mau Tau karya Enid Blyton.  Juga seluk beluk jalan rahasia ke bunker yang ditemukan Rizki, sama misteriusnya dengan berbagai jalan rahasia menuju caravan tersembunyi milik Trio Detektif karya Alfred Hitchcock. Pas sekali penulis menggambarkannya, sesuai dengan imajinasi remaja.

Keberhasilan lain yang ditunjukkan penulis adalah keberhasilan Klub Film menjuarai festival film remaja dengan menyabet gelar film pendek terbaik. Diceritakan bagaimana Klub Film bersusah payah merangkai adegan demi adegan yang terekam di dalam handycam, membuat film seadanya karena deadline lomba sudah mepet sekali. Film dadakan itu harus mereka buat karena film pertama karya mereka disabot oleh Romi. Sungguh hal yang tak mudah, mengingat penokohan yang kurang mendukung : Lena yang cepat naik darah, Dania yang bingung, dan Dion yang sedikit 'kurang'.

Penulis piawai sekali menceritakan berbagai detail, mulai dari ciri fisik seseorang, gesture hingga suasana yang membangun. Berikut ini beberapa kalimat yang cukup menarik perhatian :
  • Tinggi badan kami tampak seperti jari tengah dan jari manis. Sementara itu Dion berdiri di hadapan kami sambil mengatur fokus handycam control yang memperlihatkan gambar dekat dan jauh berganti-ganti, mengabadikan kertas itu dalam handycam. Dia melakukannya sambil menjinjitkan kaki karena dia lebih pendek dariku. Kami persis tangga dengan susunan yang acak-acakan (hal. ix)
  • Pak Kandar berperawakan pendek untuk ukuran laki-laki. Badannya tidak kurus dan tidak gemuk, kulitnya sawo matang. Rambutnya runcing-runcing dan beruban. Matanya bulat seperti kelereng. Kelopak mata dan kantung matanya besar. (hal. 48-49)
  • Dadaku naik turun menahan debaran, perutku dipenuhi pusaran energi asing seperti ada bunga-bunga tumbuh dengan kupu-kupu bermain ke sana-kemari. 
  • Ryan berkulit putih, lebih tinggi dan kurus dari Rizki. Rambutnya stylist banget. Berpotongan tipis sebelah kanan-iri, bagian tengah dipotong pendek sehingga rambutnya yang curly terlihat seksi (hal. 86)
  • Wajah Balia tampak bener-bener nelangsa, muka iyuh-aku-enggak-mau-kena-air-kotor-soalnya-sudah-luluran-sepanjang hari. (hal. 133)  *kocak sekali
Masih banyak lagi pendeskripsian yang detail seperti ini. Tentu saja, karena novel bukanlah film yang bisa sekali pandang langsung dipahami. Butuh keahlian dari si penulis untuk membangun suasana, meskipun kadang-kadang penggambarannya agak berlebihan model begini :
Pak Kandar menutup proposal, lalu menyeringai. Bibir dan hidungnya bergerak-gerak seirama membetulkan letak kumisnya.
Lah, seperti tali sepatu atau baju saja yang bisa dibetulkan letaknya :D

Juga ada beberapa penggalan kalimat yang asyik macam :
  • Jangan jadikan tujuan pribadi seolah-olah tujuan bersama (by Rizki di hal. 92)
  • Saya orang di bawah radar. Saya enggak suka jadi perhatian orang lain (by Rizki di hal. 77)
  • Kuraih screen yang patah, menaruhnya lekat dalam dada (by Lena di hal. 160)
Suka banget dengan gaya cool di kalimat itu. Mungkin bisa kupake suatu saat pas lagi perlu gitu ya ;)

Terlepas dari semua kebaikan yang coba diusung penulis, aku menemukan berbagai kelemahan di sana sini. Kucoba sampaikan beberapa saja ya dengan harapan menjadi kritik membangun, bukan untuk menjelek-jelekkan :
  • Tidak ada daftar isi. Bila suatu saat ingin membaca ulang dan langsung mencari quote tertentu di buku ini harus susah payah menyibak satu persatu, lembar demi lembar.
  • Tingkat ambisius seorang siswi SMA yang terlalu luar biasa. Semasa remaja dulu aku juga sering mengalami berbagai kegiatan di luar jam sekolah. Namun nongkrong di sekolah hingga pukul 22.00, apalagi basecamp Klub Film yang terpencil, sungguh membuatku harus memaksa imajinasi untuk mengikuti alur cerita ini. Padahal di halaman 24 diceritakan bahwa Lena mendapatkan hadiah yang lumayan besar pada kompetisi film tahun sebelumnya. Hadiah uang yang bisa digunakannya untuk membeli laptop dengan spesifikasi tinggi. Bukankah lebih nyaman mengerjakan editing film di rumah, tanpa diganggu suasana mencekam sekolah. Yah, meskipun memang suasana ini dimaksudkan untuk menguatkan cerita, rasa-rasanya tetap tak bisa menerima secara akal logis deh anak perempuan menghabiskan waktunya sendirian di keremangan malam. Apa tidak dicari oleh papa mamanya ya?
  • Penulisan "hampir pukul 22.00 malam" juga cukup membuat risi. Kalau disebutkan pukul 22.00, ya berarti itu jam sepuluh malam. Kenapa harus diembel-embeli oleh 'malam' lagi?
  • Sifat obsesif Lena yang sering tidak masuk akal, seperti pada halaman 56-59, digambarkan bagaimana Lena berkeliaran kesana kemari dan membolos pelajaran hanya demi mencari sosok 'Anak Hantu'. Wew, jaman aku SMA dulu, keluar dari garis batas pintu kelas saja sudah 'nderedek', apalagi keluyuran sana sini, menyambangi tiap kelas. 
  • Pada hal. 64 tertulis : kuseruput kopi sisa tadi siang. Bagaimana Lena bisa menyeruput kopi sisa bila sepagian hingga siang hari dia tidak berada  di basecamp. Kan sibuk 'bergentayangan' menyambangi semua kelas di sekolahnya. 
  • Rizki memiliki berbagai fasilitas canggih di dalam bunker, termasuk koneksi internet yang dicolongnya dari sekolah. Generasi hebat yang jangan ditiru nih akal-akalan nyurinya ;)

Masih ada beberapa lagi keganjilan yang kurang bisa kupahami. Namun semua kelemahan itu tidak membuat inti cerita bergeser. Tetap pas lah untuk dinikmati, sembari mengingat masa-masa puber di SMA dulu ;) 

Secara keseluruhan novel ini amat manis dibaca. Banyak nilai positif yang ingin diusung oleh penulis untuk kaum remaja agar selalu terpacu untuk berprestasi. Prestasi yang tak sekedar mengedapankan hasil, namun juga menghargai rangkaian proses yang harus dilewatinya. Melakukan perjalanan menuju prestasi melalui pertemanan yang manis, menghargai hak-hak orang lain, dan pantang menyerah. Salut untuk Mba Evi Sri Rezeki, penulis dan blogger cantik yang berhasil merangkum imajinasinya melalui karya yang segar dan renyah ini.


Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

10 comments:

  1. wah mbak... Teliti sekali ya... tiap kalimat dipahami... :)

    Sukses reviewnya mbak....

    ReplyDelete
  2. katanya dulu nyambi jd satpam sekolah mak, kok ga pernah bermalam di sekolah wkwkwkw.... pokoknya lengkap review-nya, semoga berjaya ya mbakbro...

    ReplyDelete
    Replies
    1. suwun mas Rudi, semoga review sampean juga berjaya ya

      Delete
  3. Wih, teliti banget resensinya kak, apalagi saat melihat sisi positif dari penempatan lagu dari sebuah novel. Salam kenal ya kak :)
    Sukses resensinya kak :)

    ReplyDelete
  4. Umurku denga murid-murid unyu gak beda jauh, hanya terpaut sepuluh tahun dan ternyata perbedaannya jauh sekali, terutama perbedaan cara pandang suatu hal. Nah, jaman aku sekolah dulu, pulang jam sembilan malem ke atas pasti udah ditanyain orang tua. Murid jaman sekarang? Lomba kelas pun mereka pernah ampe jam satu dini hari di sekolahan, bela-belain menata kelas, nge-cat dinding kelas tengah malam.. :D

    Keren Mbak reviewnya, paket komplit dan teliti sekali. Semoga menang ya, Mbak.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo rame2 sampe malam di sekolah masih masuk akal mba, lha ini si Lena sendirian, hiiyyy... apa enggak ngeri :(

      Terima kasih Mba Luckty, semoga menang ya di hajatannya Mba Evi ini :)

      Delete
  5. Terima kasih sudah mengapresiasi novel CineUs. Semoga nanti berkenan mengapresiasi sekuelnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wooowwww...ada sekuelnya? mau banget dooonkkksss.... :D

      Delete