Bidadari Tak Bersayap pun Bisa Terbang



Judul buku : Rainbow, Akan Selalu Ada Kesempatan Kedua
Penulis : Eni Martini
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Genre : Novel
Jumlah halaman : 201
ISBN : 978-602-02-1609-6




 Kamu itu bidadari tanpa sayap, Sayang, maka dari itu aku datang diciptakan Tuhan untuk menjadi sepasang sayap untukmu


Akna, lelaki gagah perkasa dengan tubuh atletis yang penuh percaya diri, bahwa dirinya lah sepasang sayap yang diutus Tuhan untuk melindungi kekasihnya :

Keisha, perempuan mungil nan cantik, berbibir seksi ala Liv Tyler, amat memuja dan tergantung pada Akna suaminya.

    Seperti yang kerap terjadi di dunia princess, dimana sang putri cantik akan mendapatkan pangeran gagah perkasa yang akan melindunginya sekuat tenaga. Hal itu juga terjadi pada pasangan suami istri Akna dan Keisha. Mereka saling mencintai dan memuja satu sama lain, bahkan sedang bersiap-siap merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. 

    Namun siapakah yang bisa menebak kejadian berikutnya dalam takdir perjalanan manusia pada kehidupan yang bukan dongeng princesss ini. Sekuat dan sesombong apapun manusia berujar, akhirnya harus tunduk saat takdir telah ditentukan. Akna yang begitu percaya bahwa dirinya adalah sepasang sayap yang dibutuhkan istri cantiknya, yang begitu dilindunginya, justru terhempas pada kenyataan pahit yang begitu menorehkan luka hati mendalam pada jiwanya.

    Kecelakaan naas menimpa dirinya saat perjalanan pulang untuk merayakan ulang tahun pernikahan pertamanya. Tak sekedar luka fisik berupa kehilangan kaki kanannya, namun jiwanya begitu terluka. Terhempas pada titik terendah hidupnya saat dia menyadari betapa tak berguna dirinya saat itu. Betapa orang lain begitu memandang rendah dirinya, betapa rasa iba keluarga maupun temannya menohok harga dirinya. Berbagai macam 'betapa' yang terus menerus merongrongnya.

    Di lain pihak Keisha yang juga terpukul atas peristiwa itu mencoba bangkit untuk menguatkan suaminya. Usaha yang dilakukannya dengan tabah dan sangat di luar kemampuannya, mengingat selama usia pernikahannya Keisha begitu terlindungi, selalu berada dalam kenyamanan yang diciptakan Akna untuknya. Usaha keras yang terpaksa terhantam dinding beku hati Akna yang menolak uluran tangan dari semua orang yang berusaha membangkitkan semangat hidupnya. Termasuk uluran cinta kasih istri tercintanya yang bak bidadari ini.

    Setelah Akna terpaksa dirumahkan oleh perusahaannya, Keisha yang semula memiliki bisnis baby shop hanya sebagai selingan waktu, penghibur hati di kala Akna sibuk bekerja, kini terpaksa berpikir keras untuk mengembangkan bisnis kecilnya itu. Kondisi ekonomi keluarga yang tentunya akan menjadi lebih sulit karena tiada pendapatan dari suaminya itu membuat Keisha begitu bersemangat membesarkan baby shopnya yang semula hanya jualan online saja. Konsep baru baby shop yang menyatu dengan playground coba digagasnya bersama Emi, sahabat kentalnya yang sekaligus partner bisnisnya.

    Semangat luar biasa dari Keisha yang biasanya hanya mengandalkan perlindungan suaminya ini ternyata tidak disambut secara positif oleh Akna. Akna lebih memilih menyendiri, menyepi, menyembunyikan dirinya dalam kepompong duka yang dia ciptakan sendiri. Menjauh dari sentuhan semua orang yang menyayanginya. Hingga akhirnya dia melakukan kesalahan terbesar kepada istrinya yang selalu setia mendampingi dan terus mengalah pada perlakuan dingin dan ketus yang seolah-olah menjadi tabiat barunya. Padahal Akna dulu hangat dan penuh kasih sayang terhadap Keisha istri tercintanya itu. Keisha tak tahan lagi hingga akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Bandung dan siap menceraikan Akna.

    Lantas bagaimanakah Akna menghadapi semua ini. Cacat, sendirian, dirumahkan oleh perusahaannya gara-gara kondisi fisiknya, dan kini istri terkasihnya pergi meninggalkan dirinya. Pelangi seperti apakah yang bisa diharapkan Akna untuk menyingkap semua derita yang dirasanya begitu bertubi-tubi menderanya? Akankah biduk rumah tangganya ini bisa terselamatkan? 

    Bagaimana pulakah Keisha mengobati luka hatinya? Kian hari kian menganga keremukan jiwanya akibat perlakuan Akna, yang setelah kecelakaan itu seakan berubah menjadi monster. Pemarah, dingin, kaku dan tak mau lagi disentuh. Akna menjadi seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. Mampukah Keisha meraih kembali kebahagiaannya yang dulu bersama sepasang sayap titipan Tuhan itu? Ataukah dirinya harus menjelma menjadi bidadari tak bersayap yang harus kencang berlari untuk bisa terbang tinggi?


     Novel ini menyuguhkan alur maju mundur yang terasa mengasyikkan, membuatku memahami detail cerita yang ingin disuguhkan penulis kepada pembaca. Satu kejadian namun ditarik dari dua sisi yang berbeda, misalnya saat terjadi peristiwa kecelakaan yang dialami oleh Akna. Diceritakan bagaimana Akna begitu ceria saat memenangkan tender hari itu. Sedangkan di bagian lain diceritakan Keisha yang sedang sibuk mempersiapkan anniversary perkawinan mereka yang pertama. Bagaimana mereka berdua saling memesan kado untuk hadiah masing-masing terasa begitu berwarna. Warna indah yang harus dibayar mahal saat kecelakaan naas merenggut kaki kanan Akna.

    Kejadian dalam rumah tangga yang biasa terjadi disuguhkan penulis dengan tambahan percikan derita sebagai pangkal permasalahan. Penulis mencoba menggugah nurani pembaca melalui berbagai peristiwa, yang meskipun sederhana namun perlu untuk dipikirkan manakala tertangkap maksud di balik itu : mampukah kita bertindak dengan benar dan bijaksana saat menghadapi masalah yang menimpa Akna dan Keisha itu. Dan sejujurnya pun aku mengakui, aku tak tau pasti apa yang harus kulakukan bila berada di posisi Keisha maupun Akna.

   Seperti kata pepatah, tak ada gading yang tak retak. Dalam novel ini terdapat beberapa kesalahan penulisan, meskipun tidak mengganggu alur cerita namun sempat membuatku membaca bolak balik atas ke bawah dan bawah ke atas untuk memastikan mana yang benar. Seperti di halaman 21 saat Keisha menyebutkan namanya sendiri Kekei, padahal mamanya memanggil Keike.

     Aku juga menjadi bingung saat merunut kronologi kecelakaan yang terjadi pada Akna. Baru saja Akna bertelpon ria dengan sahabatnya Romi di jalan tol. Tapi kok ada cahaya yang lebih kuat meluncur deras ke arahnya, ini kuartikan sebagai mobil yang melaju dari arah berlawanan. Biasanya jalan tol itu kan satu arah, nah ini kenapa bisa ada mobil dari arah berlawanan. Apa mungkin mobil Akna sudah keluar dari jalan tol ya? Tapi tadi kan baru saja menutup telpon, sedangkan jelas-jelas dicantumkan bahwa Akna masih di jalan tol sehingga tidak mungkin mampir ke toko perhiasan untuk membeli kado bagi Keisha. Jadi wajar kan bila hal ini menimbulkan keraguan saat membacanya. 

   Masih ada beberapa lagi kesalahan tulis maupun hal janggal yang kuyakini terjadi hanya gara-gara misstype saja. Terlepas dari berbagai kelemahan di atas, mba Eni Martini berhasil mengusung berbagai makna pelangi di novel ini. Di salah satu sisi, sesuai wujud penggambaran secara umum bahwa pelangi itu akan muncul setelah hujan. Sesuai pengibaratan itu rainbow / pelangi ini bisa dimaksudkan sebagai keindahan yang akhirnya muncul setelah berbagai masalah menyeruak dalam kehidupan para tokoh di novel. 

    Warna-warni pelangi di novel ini bisa juga digambarkan melalui keragaman budaya dalam pernikahan Akna dan Keisha. Akna yang berasal dari Batak dan Keisha si cantik lemah lembut dari Sunda. Dua kepribadian yang berbeda yang menyatu dalam satu rangkaian pelangi kehidupan. Berbagai warna dimunculkan oleh kedua tokoh sentral dalam novel ini, mulai dari sifat hingga aneka jenis makanan dari daerah masing-masing.

    Berkaitan dengan kuliner yang menjadi 'bumbu penyedap' novel ini, aku pun penasaran apa sih sebenarnya Ratatouille au Micro-Ondes, kok bikin lidah berlipat-lipat saat mengucapkannya :)  Meskipun sudah dijelaskan di halaman 3, tetap saja penasaran searching di google.  Eh, ternyata seperti ini toh :
gambar dan resep bisa diakses di Akoho-value recipes
    Tau kan oseng-oseng atau tumis? More or less seperti itu lah. Bedanya masakan ini tidak dimasak dengan penggorengan, namun dimasukkan ke dalam microwave dan dimasak hingga matang. Resep lengkapnya bisa langsung klik pada gambar di atas. Untukku intinya ratatouille ini ya oseng-oseng terong plus mentimun :D

    Novel ini cukup menginspirasi, memberikan wacana tentang adanya kesempatan kedua saat kita hidup di dunia. Tulisan mba Eni Martini ini bisa menjadi bahan permenungan tentang arti kekuatan 'two become one'. Bila sudah menjadi satu, tak akan ada ruang bagi 'setengah'. Satu ya satu, tidak bisa terbagi-bagi, tidak seperti rumus matematika.

colours of rainbow may ease the sorrows

Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

19 comments:

  1. Megap-megap aku bacanya, rek. Bagus Mbak, komplet dan lezat seperti oseng2 terong itu. Kisah rumah tangga memang selalu asyik dibikin novel ya. Kita jd banyak belajar dan berkaca pada diri sendiri--dan lebih bersyukur atas apa yg kita miliki. Paragraf terakhir tuh terasa nendang, good job! Semoga menang Mbak. Trus makan2 di soto bangkong hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. matur nuwun untuk komen pertamax nya mas Rudi, senenge reeek dikomeni pakar resensi begini hehehee... Ojo ning soto bangkong lah mas, ijek akeh liyane sing luwih nendang :D

      Delete
    2. cari yang murah aja Mbak xixixi--atau nasi kucing aja di singosari deket perpustakaan wilayah sriwijaya? hehe :)

      Delete
    3. wes lewat iku mas sego kucing model iku, ono sing murmer tapi akeh pilihane tur enak nggo nongkrong di daerah dekat SD Nasima :) ntar klo sempat taktulis di blog satunya lagi yo mas menu2nya hehehee...

      Delete
    4. Wah jd makin mupeng dan ngiler, hahai :)

      Delete
  2. Wow lengkap... kayaknya sedih ya ceritanya.
    Moga sukses mak :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sih, sedih, tapiiii... ah baiknya baca sendiri saja yaaaa :)

      Delete
  3. keren mbak. penulisan resensi yang komplit ber-Pelangi! sukses ya mak. barokallahu fiik... saatnya terus memintalkan do'a moga resensinya jadi juara. dan kami tunggu traktirannya... *modusterselubung

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa...matur nuwun utk komen dan doanya yaaa..

      Delete
  4. jangan lupa mba dicoba resepnya ^_^..thx sdh berpartisipasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaahh...dikunjungi ama penulisnya ik, jadi maluuuuu ;)
      Nggak bisa coba resepnya mba, di desa kagak ada micro-ondes alias microwave xixiiii... lagian enak ditumis langsung daripada diguyur2 olive oil model begitu, gak cocok ama lidah ndesoku mba ;)
      Terima kasih sudah berkenan mampir di resensiku yang acak adul ini hehehee...

      Delete
  5. keren resensinya maak, jadi penasaran sama endingnya, dan sama Ratatouille au Micro-Ondes nya hihihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Novel ini ceritanya menyentuh mak, hayuk baca. Klo ratatouille bisa langsung diklik tuh link yg kukasih di bawah gambarnya. ketoke ijek enak oseng2 kangkung utowo glandir sambel asem deh heheheee

      Delete
  6. baca resensinya ja udah ikutan sedih n jadi penasaran ma novelnya. keren mbak..
    baru tau klo Ratatouille au Micro-Ondes itu oseng2 timun n terong tow? padahal dah berkali2 nonton film kartunnya

    ReplyDelete
  7. Baru baca resensinya wis deg-degan...pinjam bukunya doong hehe...boleh dibahas di klub buku kita yak..ratatouille ini juga yang jadi tema film kartun tikus jadi tuksng masak, katanya masakan prancis rumahan yak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iye mak, itu kan judul film besutan Pixar tahun 2007 :)
      Boleh boleehh...hayuk kapan klub buku kita beraksi? :D

      Delete
  8. jadi penasaran pingin baca novelnya....:)

    ReplyDelete
  9. rataouile iku sing film kartune tikus kui lo
    Loh malah ngomongke kartun haha

    Resensine sip mbak'e, moga berjaya bersama saya wkwk *Pakdhe mode on

    ReplyDelete