Adem Panas Gara-gara Cenat Cenut

Judul buku : Cenat Cenut Reporter
Penulis : Wuri Nugraeni
Penerbit : Gradien Mediatama
Cetakan 1 : 2013
ISBN : 978-602-208-108-1
Jumlah halaman : 224
Genre : Nonfiksi Komedi


    Pernah sih dulu, duluuuuu sekali ikutan mata kuliah jurnalistik. Selalu membayangkan kerennya jadi reporter dengan bekal ilmu itu. Meskipun pada akhirnya kuliah hanya sambilan semata *loh. Tak pelak lagi nilai-nilai kuliah jeblok semua. Itulah yang selalu membuatku terkagum-kagum pada teman yang saat ini bisa sukses menjadi reporter handal.

    Salah satu mantan reporter handal yang kukagumi ya penulis buku Cenat Cenut Reporter ini. Bagaimana tidak, dia mampu menjungkirbalikkan bayangan akan kerennya seorang reporter. Bahkan sedikit bersyukur nih aku tidak terjerumus seperti dirinya. Hehehee... no no, just joking. Ini semua kusampaikan sebagai rasa salut yang menandingi 'standing ovation' di acara-acara pencarian bakat itu *tambah ngelantur


    Pertama kali melihat cover buku yang rame dan kriyuk itu sudah terbayang apa nanti isinya. Dan benar saja, mulai dari halaman perkenalan tokoh-tokohnya aku sudah mulai mengendus adanya 'ketidakberesan' di sini ;)
for me this pic described the whole 'behind stories', what do you think? ;)

    Aneka 'ketidakberesan' yang saling terjalin manis memang merupakan kekuatan dari buku non fiksi komedi ini. Serasa tak mau lepas mata ini dari halaman pertama hingga terakhir. Pada dasarnya aku penyuka buku-buku komedi. Jadi aneka penggalan cerita dari para pekerja di belakang layar rumah produksi yang disampaikan secara 'tidak biasa' ini sangat sayang untuk dilewatkan.

    Di bagian awal (halaman 17) terungkap salah satu kekonyolan dari 'tersangka utama'  yang selama ini menghantui benakku *tsaahhh... Bagaimana dalam mewawancarai narasumbernya ternyata si reporter kurang menguasai penugasannya. Narsum yang seharusnya jadi tokoh utama malah dikira komentator yang akan memberikan testimoni tentang tokoh utama. Wealaaaahhh...

Reporter : Grogi, ta?
Narsum : Enggak
Reporter : Anggap aja kameranya enggak ada. *ngupil-ngupil dulu
Narsum : Bukan gitu.
Reporter : *garuk-garuk kaki* Minum dulu deh biar enggak grogi
Narsum : Saya enggak grogi

    Ternyata si narsum tadi bingung gara-gara ditanya sejak kapan kenal dengan tokoh utama yang akan diwawancarai. Sang reporter mengira narsum itu hanyalah komentator hanya karena nama panggilan si narsum berbeda dengan nama tokoh utama yang tertulis di kaset penugasan reporter itu. Doh hadoh, jadi cekikikan sendiri saat baca reaksi reporter yang malu berat gara-gara ke-sok teong-annya ini.

Mendadak pusing.
Pengen berkubang di akuarium saja. Blub, blub, blub

    Hahahahaaa..... Jadi kram perut deh saat baca bagian tadi. Belum lagi di cerita selanjutnya. Di halaman 49 ada asisten produser yang super konslet, mengacaukan sesi reportasenya sendiri.Coba simak dialog berikut ini, antara Asti (sang asprod) dengan narsumnya yang bernama Pak Wawan, saat mereka akan ketemuan di kantor sang narsum :

Asti : Saya persis di depan plakat bertulisan 'Gedung BUMN Jakarta Barat'.
Pak Wawan : Jakarta Barat? Saya di Jakarta Timur, Mbak.

    Ora nggenah, alias enggak bener banget kan ini. Lah dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat kan bukan sekedar beda gang. Jauh banget kan itu. Sungguh membuat frustasi si driver yang sudah mengantarkannya dengan sejuta kepanikan. Apalagi untuk bos dimana dia bekerja kan ya? Bayangin saja harus menggaji asisten yang konslet seperti ini. *break untuk terpingkal-pingkal dulu

    Dari halaman 9 hingga 222, pembaca akan terus terbawa pada berbagai 'sisi gelap' reporter dan para kru rumah produksi. Benar-benar tak disangka.  Bikin adem panas deh saat harus tergelak-gelak hingga perutku berubah menjadi six pack *apaaaaa???

    God bless you, dear writer. Bless you for these funny stories. Bless you for giving me your signature on my book ;)






Uniek Kaswarganti

Mom of two lovely kids, loves reading so much especially on fiction. She prefers listening Genesis and Phil Collins, The Corrs and KLa Project while enjoying her loneliness.

8 comments:

  1. bisa ceritanya yang lebih lengkap gakk hehe
    kayanya seru nih ceritanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. klo lengkap banget ntar enggak kepengin punya bukunya donk. kasihan penulisnya atuh ;)
      matur nuwun ya sudah mampir ke sini

      Delete
  2. Bisa bikin mungilnya mulutku terbahak-bahak niiich, ceritanya bikin semangat bersuara #dari tadi ngantuk Mba...tapi aku enggak punya bukunya piyeh? hehehee

    Ceritain lengkape dong Mba...hihiii

    Salam
    Astin

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo berburu bukunya mb Astin, keren bener lho mba *sambil kedip2 ke penulisnya minta jatah preman :D

      Delete
  3. Alhamdulillah ternyata temanku satu ini pernah menganggumi aku sang reporter andal toh hihihi... Makasih ya... Yang belum punya bukunya, di toko buku sudah beredar #MalahPromo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. grrrr... berasa pengin hapus komen ini deh :p

      Delete